Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 September 2012

H. Muammar ZA : Al Qur'an Membawaku Keliling Dunia


H. Muammar Zainal Asyikin (lahir di Pemalang, 1955) adalah seorang hafiz (penghafal Al-Qur'an) dan qari (pelantun Al-Qur'an) asal Indonesia yang dikenal luas secara internasional. Ia pernah menjuarai MTQ tingkat nasional maupun tingkat internasional pada dasawarsa 1980-an. Rekaman pembacaan (tilawah) Qur'an secara duet yang dilakukannya bersama dengan H. Chumaidi hingga sekarang amat populer dan dianggap sebagai terobosan dalam cara presentasi tilawah.
Ia adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara (hanya sembilan yang mencapai dewasa) anak pasangan H. Zainal Asyikin dan Hj. Mu’minatul Afifah, yang juga tokoh agama di desanya. Adiknya, Imron Rosyadi Z.A., juga mengikuti jejaknya menjadi qari nasional setelah menjuara MTQ; sementara adik bungsunya, Istianah, menjadi salah satu anggota DPRD DI Yogyakarta.
Muammar ZA menikah dengan seorang asal Aceh dan dikaruniai seorang putri dan empat putra. Semenjak 2002 ia mendirikan Pesantren Ummul Qura di Cipondoh, Tangerang, salah satunya adalah untuk mewujudkan cita-citanya mencetak qari dan qariah berkualitas internasional.
Dedikasinya yang tinggi sebagai membuatnya pernah menembus tebalnya hutan Kalimantan, lembah di Jawa Barat, hingga ke istana Sultan Brunei dan bahkan diizinkan masuk ke dalam bangunan Ka'bah.


Al-Quran Membawaku Keliling Dunia

Suaranya yang merdu dalam melantunkan Al-Quran, mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari lereng gunung, lembah, ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan ke dalam Kakbah. Lantunan suaranya mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja.

Malam baru saja beranjak, ketika sesosok pria yang masih terlihat muda menaiki panggung dan duduk di kursi yang disediakan. Usai salam dengan suara rendah cenderung serak, pria berperawakan ramping itu mulai membaca taawudz dan basmalah. Dengan mata setengah terpejam, perlahan, ia mulai mengalunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan irama bayati, lagu pembuka qiraah yang bernada rendah.

Perlahan tapi pasti suara itu meningkat, terkadang melengking tinggi, melantun panjang. Di depannya, ratusan orang bagaikan tersihir, terkesima mendengarkan lantunan suaranya yang naik-turun mengirama, bagaikan gelombang ombak yang susul-menyusul menghampiri pantai. Tak jarang, setiap kali alunan suaranya berhenti untuk mengambil napas, puluhan kepala, seperti tersadar dari hipnotis, segera menggeleng takjub.

Ia memang legenda. Meski Musabaqah Tilawatil Quran secara rutin digelar di berbagi tingkatan, belum ada satu pun yang menyamainya. Hampir semua umat Islam Indonesia, terutama di pedesaan, jika ditanya siapakah qari yang paling dikenal di Indonesia, jawabnya pasti Ustadz H. Muammar Z.A.

Suaranya yang merdu serta keindahan iramanya dalam melantunkan Al-Quran begitu termasyhur. Kelebihan ini pula yang mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari desa-desa di lereng gunung, tepi lembah dan ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan mengantarkannya masuk ke dalam Kakbah. Lantunan suaranya yang khas mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja. Ia penah mengaji di istana Raja Hasanah Bolkiah, istana Yang Dipertuan Agong Malaysia, sampai istana raja-raja di Jazirah Arab.


Sejak Belia
Meski masih terlihat cukup muda, Ustadz Muammar tahun ini menginjak usia 51 tahun. Ia dilahirkan di Dusun Pamulihan, Warungpring, Kecamatan Moga, sekitar 40 kilometer selatan ibu kota Kabupaten Pemalang, dari pasangan H. Zainal Asyikin dan Hj. Mukminatul Afifah, ulama dan tokoh masyarakat di desanya. Muammar adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Namun hanya sembilan yang masih hidup. Belakangan, adiknya, Imron Rosyadi Z.A., juga mengikuti jejaknya menjadi qari nasional setelah menjuara
 MTQ. Adiknya yang bungsu, Istianah, kini menjadi salah satu anggota DPRD Tingkat I Yogyakarta.

Muammar mengenal qiraah sejak belia. Ia memang berasal dari keluarga qari. Ayah dan kakak-kakaknya dikenal bersuara merdu. Sang ayah adalah pemangku masjid di dusunnya, yang setiap akhir malam melantunkan tarhiman, shalawat dan puji-pujian untuk membangunkan orang-orang guna mendirikan Shalat Shubuh.

Waktu kecil, ia, bersama teman-temannya, belajar seni baca Al-Quran dari teman lain yang lebih besar, yang kebetulan menguasai beberapa lagu. Di samping itu Muammar mulai keranjingan terhadap qiraah, belajar secara serius pada kakaknya, Masykuri Z.A. Namun karena kakaknya tinggal di sebuah pesantren yang cukup jauh dari desanya, pelajarannya baru akan bertambah jika Masykuri pulang ke rumah ketika liburan.
Namun demikian bakat Muammar mulai kelihatan. Tahun 1962, ia menjuarai
 MTQ tingkat Kabupaten Pemalang untuk tingkat anak-anak, mewakili SD-nya.

Waktu itu saya masih memakai celana pendek saat mengaji, he he he, kenang Muammar.
Sekitar awal tahun 60-an, suara dan lagunya memang sudah mulai bagus, meski hafalan suratnya masih terbatas. Ia sudah mulai diundang untuk mengaji di acara-acara pengajian atau pengantinan di kampungnya. Dan lucunya, ayat yang dibaca itu-itu saja. Ketika kakaknya pulang dari pesantren, barulah hafalan ayat dan lagunya bertambah.

Selepas SD, Muammar sempat nyantri di Kaliwungu, Kendal, sebelum melanjutkan ke
 PGA di Yogyakarta. Selesai PGA, ia sempat juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Di Kota Gudeg, ia melanjutkan kiprahnya di bidang seni baca Al-Quran. Muammar mengikuti MTQtingkat Provinsi DIY yang diadakan oleh Radio Suara Jokja tahun 1967. Ia berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat remaja. Tahun-tahun berikutnya, Muammar ikut lagi dan kembali juara. Tahun itu juga, ia mewakili DIY ikut MTQ tingkat nasional di Senayan tingkat remaja, namun ia belum meraih juara.

Sejak itu, Muammar menjadi langganan tetap kontingen
 DIY di MTQ Nasional, tahun 1972, 1973, dan seterusnya. Tahun 1979, ia bahkan terpilih menjadi anggota kontingen Indonesia di sebuah haflah, semacam MTQ internasional, yang diselenggarakan di Mekkah. Gelar juara nasional pertama kali diraihnya di MTQ Banda Aceh tahun 1981. Kali ini ia mewakili DKIJakarta. Muammar yang saat itu tengah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Ciputat, mendapatkan hadiah sebuah televisi. Pemerintah Provinsi DKI sendiri kemudian memberi tambahan bonus hadiah, ibadah haji.

Namun, tidak seperti kariernya di bidang tarik suara, dalam pendidikan Muammar mengakui kurang berhasil. Kuliahnya di
 PTIQ yang tinggal skripsi tidak selesai. Waktu itu, kata sang qari, ada perubahan peraturan yang agak mendadak. Jika semula syarat ujian skripsi itu hafal lima juz Al-Quran, tiba-tiba diubah menjadi 30 juz.
Wah, saya nggak siap, ujar Muammar jujur. Meskipun demikian, uniknya, setelah menjadi juara nasional dan qari internasional, ia justru diminta mengajar di sana.


Tidak Berpantang
Ditanya mengenai rahasia suaranya, suami Syarifah Nadiya ini dengan serius mengatakan tidak mempunyai resep rahasia apa pun. Dalam hal-hal seperti itu, saya cenderung rasionalis, ungkap Muammar. Saya nggak begitu percaya pada hal-hal begituan, seperti nggak boleh makan ini-itu, harus cukup tidur, atau harus tidur jam segini. Bahkan saya jarang tidur lho, apalagi sebelas hari ini saya selalu pulang pagi.

Ia pun mengakui, meski dulu pernah sekali ikut-ikutan mencoba, tidak berani ikut gurah. Saya nggak berani ikut, katanya. Apalagi yang enggak jelas. Karena, salah-salah malah merusak pita suara. Kalau cuma melegakan, mungkin ya. Tapi kalau dipaksakan begitu lalu saraf tenggorokannya putus, kan malah jadi penyakit, he he he. Sebenarnya, kata Muammar, kalau memahami tata cara wudu yang benar dan menerapkannya, itu juga sudah menjadi gurah. Misalnya ketika istinsyaq, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkan lagi dengan keras.

Disinggung bagaimana kiatnya menjaga suara, qari yang pernah diundang mengaji di istana Yang Dipertuan Agong Malaysia dan Sultan Hasanah Bolkiah, Brunei, ini mengaku hanya memasrahkan diri kepada Allah. Niat saya mau ngaji lillaahi taala, Ya Allah, tolong saya. Namun yang pasti, setiap bangun tidur ia selalu melakukan warming up, pemanasan, dengan rengeng-rengeng, menggumamkan nada-nada tilawah. Demikian juga ketika akan mengaji. Menurutnya ini penting, untuk menghindari kaget.

Berbeda dengan para penyanyi yang banyak mempunyai pantangan, terutama makanan dan minuman, Muammar menyantap hampir semua makanan dan minuman yang disukainya. Bahkan, makanan kesukaannya adalah sambel, lalap, dan ikan asin, yang harus selalu ada di meja makannya.

Saya hanya memastikan, ketika saya mau ngaji, kondisi badan saya fit, ungkapnya, berbagi resep. Baru kemudian, kunci terpentingnya adalah mengaji dengan ikhlas dan perasaan senang.

Bagi Muammar, mengaji dengan ikhlas dan senang hati itu menjadi hiburan dan kenikmatan tersendiri. Maka, tak mengherankan, setiap kali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, ia tampak begitu menikmati. Terkadang matanya setengah terpejam, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Pokoknya saya dengerin sendiri, karena memang pada dasarnya saya suka. Itu, menurutnya, membuatnya mampu mengaji minimal setengah jam, jika di dalam kota. Karena mereka kan sering ketemu saya. Tapi kalau di luar kota, terlebih di luar Jawa, saya bisa satu jam, bahkan lebih.

Dalam satu hari biasanya ia mengaji di tiga sampai empat tempat. Di beberapa tempat, terkadang ia juga berceramah, biasanya jika mubalignya tidak datang. Mengaji itu pula yang mempertemukannya dengan sang istri tercinta, ketika sang pujaan hati yang dinikahinya pada tahun 1984 itu duduk dalam kepanitiaan sebuah pengajian di Kemanggisan. Buah pernikahan dengan wanita berdarah Aceh itu kini sebagian telah beranjak remaja.
Lia Fardizza, putri sulung qari yang pernah berguru kepada Syekh Abdul Kholil Al-Mishri, qari besar Negeri Piramid, kini menginjak semester ketiga di London School, jurusan bahasa Inggris. Sejak TK, Lia memang gandrung dengan bahasa internasional tersebut, terlihat dari hobinya membaca komik-komik berbahasa Inggris. Belakangan ia juga gemar mendendangkan lagu-lagu Barat. Tidak mengherankan, dialek lisannya, menurut Muammar, cenderung ke Amerika.

Putra-putranya, Ahmad Syauqi Al-Banna, kini duduk di kelas 3
 SMU, Husnul Adib Al-Hasyim kelas 2 SMP, Raihan Al-Bazzi, kelas 4 SD, dan si bungsu Ammar Yuayyan Al-Dani, kelas 3 SD. Di antara lima anaknya, tiga di antaranya mewarisi keindahan suara sang ayahanda, Lia, Raihan, dan Ammar. Namun karena keterbatasan waktu serta kesibukan Muammar, diakuinya, potensi putra-putrinya itu belum tergarap.

Menurutnya, qari yang baik itu harus memiliki suara yang bagus, napas panjang, penguasaan lagu, dan dialek yang bagus. Dan, membentuk dialek itu tidak gampang. Orang Jawa, misalnya, akan cukup sulit mengucapkan huruf
 ba dengan benar. Ia sendiri mengaku cukup lama mempelajari dialek Al-Quran dengan memperhatikan dialek qari-qari dari Mesir, Arab, dan daerah Timur Tengah lainnya.

Qari lokal yang bagus, menurut Muammar, biasanya yang berasal dari pesantren Al-Quran yang kebetulan pengasuhnya juga seorang qari mumpuni. Ini karena sang kiai biasanya mempunyai kelengkapan ilmu qiraah dan kepekaan, maka pembelajaran qiraahnya juga dilengkapi dengan ilmu tajwid, makharijul huruf (ilmu pelafalan huruf Al Quran), dzauq (cita rasa bahasa), dan sebagainya.




Diambil dari berbagai sumber antara lain:
http://id.wikipedia.org/wiki/Muammar_Z.A
http://ahmad-iftah-shiddiq.blogspot.com/2006/03/ustad-muammar-za.html
http://yogyakarta.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=11537


Download Gratis 

1. Bimbingan Tilawatil Qur'an oleh H. Muammar ZA.mp3, Volume 1a

2. Bimbingan Tilawatil Qur'an oleh H. Muammar ZA.mp3, Volume 1b

3. Bimbingan Tilawatil Qur'an oleh H. Muammar ZA.mp3, Volume 2a

4. Bimbingan Tilawatil Qur'an oleh H. Muammar ZA.mp3, Volume 2b









Jumat, 12 Agustus 2011

NASEHAT UNTUK PARA PENCARI KEBENARAN part 5 of 6

Imam Al-Ghazali

Wahai Anakku, saya menasihatimu dengan delapan hal dan terimalah agar ilmumu tidak menjadi musuhmu di hari kiamat. Empat dari delapan nasihat itu kau harus kerjakan dan empat lainnya harus kau tinggalkan.


Empat Hal yang Harus Ditinggalkan

Adapun empat hal yang harus kau tinggalkan adalah sebagai berikut.

  1. Meninggalkan perdebatan sedapat mungkin dan/atau menegakan hujah (alasan) bagi setiap orang yang menyebutkan suatu permasalahan, karena dalam hal ini mengandung banyak tanda, di mana dosanya lebih banyak dari pada manfaatnya. Mengapa dosanya lebih hanyak, karena hal itu menjadi sumber bagi setiap akhlak yang jelek, seperti riya, hasud, sombong, dendam, permusuhan dan ujub.
           Memang benar seandainya muncul suatu masalah antara dirimu dengan seseorang atau sekelompok orang, sedangkan kau bermaksud mempertegas dan memenangkan kebenaran, sehingga kebenaran tidak tersia-sia, maka kau boleh membahas dan mendiskusikannya, Akan tetapi, hal ini pun harus memiliki dua tanda:
    pertama engkau tidak mengubah sikap dan tidak membeda-bedakan antara apakah kebenaran itu muncul dari lidahmu atau teman diskusimu, Bahkan engkau akan merasa senang bila ternyata bila kebenaran itu justru tersingkap dari teman diskusimu. Sebab penerimaannya terhadap apa-apa yang bersumber dari dirinya akan lebih mudah diterima olehnya daripada apa yang bersumber darimu.
    kedua diskusi di tempat yang sunyi lebih kau sukai daripada di tempat umum yang ramai. Jika kau mengatakan suatu masalah dan kau tahu bahwa kebenaran berada dipihakmu sementara dia mencemoohkan atau melecehkan, berhati-hatilah menegakan hujah dihadapannya. Tinggalkanlah dia sebab tidak ada faedah bersamanya, justru kau akan mendapat faedah bila meninggalkannya.
           Ketahuilah, mempertanyakan sesuatu yang sulit sama halnya dengan menyodorkan penyakit hati kepada seorang dokter, dan jawaban untuk pertanyaan itu merupakan salah satu upaya atau terapi menyembuhkan penyakit.
           Ketahuilah, orang yang bodoh adalah orang yang hatinya sakit, sedangkan seorang ulama yang mengamalkan ilmunya adalah seorang dokter. Ulama yang kurang ilmu, terapinya tidak mustajab. Sedangkan ulama yang sempuma, belum tentu mampu menyembuhkan setiap penyakit, tetapi hanya mampu menyembuhkan penyakit orang yang memang mengharapkan kesembuhan dan kebaikan. Jika penyakitnya sudah kronis atau akut, maka sulit diharapkan kesembuhannya. Dalam hal ini, seorang dokter atau tabib cukup mengatakan, "Ini tidak mungkin disembuhkan." Karena itu, engkau jangan disibukkan dengan mengobatinya karena hanya menyia-nyiakan umur.
           Kemudian ketahuilah, penyakit bodoh ada empat macam. Tiga tidak bisa disembuhkan, sedangkan sisanya masih bisa.
    1. Penyakit bodoh yang paling tidak bisa menerima kesembuhan, adalah penyakit yang orang bodoh yang bersumber dari penyakit hasud dan marah dalam dirinya. Ketika pertanyaan yang diiringi oleh hasud itu dijawab dengan jawaban yang sangat jelas, baik dan tepat, orang itu tetap saja tidak akan menerima. tetapi semakin marah, memusuhi dan hasud. Maka jawaban yang terbaik untuk persoalan ini adalah tidak menjawabnya. Alias diam. "Setiap permusuhan bisa diharapkun kesembuhannya. Kecuali permusuhan yang muncul dari hati yang hasud" Oleh sebab itu, kau harus menghindar dari masalah ini, meninggalkan orang yang punya jiwa seperti ini dan tidak perlu menanggapinya. Biarkanlah ia dengan penyakit hatinya. Allah swt. berfirman: "Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi." (QS. Al Najm: 29). Hasud yang menjadi pemicu ucapan dan tindakan hanya akan menyalakan api dalam kebun ilmunya. Hasud memakan kebaikan sebagaimana api yang memakan kayu.
    2. Penyakit bodoh yang bersumber dari kedunguan. Penyakit ini pun tidak bisa disembuhkan, sebagaimana yang dikatakan Isa as: "Saya mampu menghidupkan orang mati, tetapi saya tidak mampu mengohati penyakit tolol." Orang dungu adalah orang yang sibuk mencari ilmu dalam waktu yang singkat dan dangkal, dan samasekali tidak mempelajari ilmu yang rasional dan syar'iy, kemudian karena kedunguannya ia bertanya dan memprotes seorang ulama hebat yang sepanjang usianya telah digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu rasional dan syar'iy. Inilah orang dungu yang tidak tahu dan tidak menduga bahwa sesuatu yang menyulitkannya juga menjadi persoalan yang menyulitkan orang alim hebat. Jika ia tidak tahu kapasitas dirinya, maka pertanyaan yang dilontarkannya, muncul adalah cermin dari kedunguannya. Karena itu, haruslah kau berpaling dari orang yang seperti ini dan tak perlu membuang waktu untuk sibuk memikirkan jawabannya.
    3. Penyakit bodoh dari orang oportunis. Orang oportunis yang selalu mencari petunjuk kepada beberapa orang yang tidak memiliki keahlian untuk memahami perkataan orang-orang terkemuka. Dia bertanya mengenai hal-hal yang tidak jelas agar mendapat manfaat (keuntungan pribadi) dari jawaban yang diberikan. Akan tetapi, karena keterbatasan pemahamamnya ia tidak mengetahui hakikatnya, Karena itu engkau tidak perlu memberikan jawaban kepadanya. Rasulullah saw. bersabda: "Kami adalah kelompok para Nabi yang diperintahkan berbicara kepada manusia menurut ukuran. (kemampuan) akal mereka."
    4. Adapun penyakit bodoh yang masih bisa disembuhkan adalah penyakit bodoh yang diderita orang berakal yang giat mencari petunjuk dan pemahaman. Ia tidak dikalahkan oleh hasud, nafsu amarah, senang syahwat,kehormatan dan harta. Ia adalah pencari kebenaran. Pertanyaan-pertanyaannya tidak lahir dari perasaan hasud, juga tidak bermaksud untul menyusahkan atau menguji. Penyakit bodoh ini bisa disembuhkan, dan yang ditanya boleh memikirkan jawabannya, bahkan wajib menjawab pertanyaannya
     
  2. Kau harus menghindarkan diri jadi pemberi nasihat atau penceramah atau juru dakwah , karena dalam hal ini terdapat banyak penyakit, kecuali jika kau sudah melaksanakan apa yang telah kamu katakan. Setelah itu, kau baru boleh jadi penasihat. Renungkanlah apa yang pernah dikatakan kepada 'Isa as, "Hai Putra Maryam, nasihatilah dirimu. Jika kamu berhasil menasihati dirimu, maka nasihatilah orang lain. Jika tidak, maka malulah kamu kepada Tuhanmu".
    Jika kau diuji dengan perbuatan ini (jadi penasihat atau penceramah), maka jagalah dirimu dari dua hal.
    1. Pertama, jagalah diri dari kepura-puraan, jangan membuat kata-kata yang sulit atau kalimat yang dibuat-buat, baik dalam bentuk ungkapan, isyarat, simbol-simbol, bait-bait syair maupun puisi, karena Allah memurkai orang-orang yang suka memberat-beratkan diri atau membuat kata-kata yang dibuat-buat. Orang yang memberat-beratkan diri adalah orang yang melampaui batas, dan perbuatan ini menunjukkan batinnya rapuh dan hatinya lalai.
             Padahal makna dari suatu nasihat adalah agar orang selalu ingat atau selalu berdzikir, mengingat api Akhirat dan membatasi dirinya hanya untuk berkhidmat kepada Allah; memikirkan usianya yang telah lewat yang habis digunakan untuk hal-hal yang tidak berarti; memikirkan ancaman siksaan di depan matanya; memikirkan bagaimana akhir kehidupannya, apakah berakhir dengan baik atau jelek; memikirkan bagaimana Malaikat Maut mencabut nyawanya; memikirkan apakah dirinya kelak mampu menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir; seluruh perhatiannya tercurahkan untuk kejadian-kejadian di hari Kiamat dan akibat-akibat yang ditimbulkannya; dan memikirkan apakah dirinya mampu melewati titian jalan di atas neraka dengan selamat ataukah terjatuh ke dalam jurang neraka;
              Semuanya ini harus dibangkitkan dalam benak dan kalbu mereka Hingga terpikirkan terus-menerus dalam hati dan jiwanya, sampai hatinya bergetar ketakutan. Api ketakutan yang meluap dalam dirinya akan menimbulkan ketaatan kepada Allah dan getaran-getaran ini bila diarahkan kepada Allah dinamakan ingat atau dzikir. Adanya kesadaran diri sebagai makhluk yang lemah dan terbatas, sadar atas cacat-cacat dirinya, akhirnya akan menimbulkan panas dan membakar jiwanya, menggetarkan urat-urat syarafnya, lalu mendorong dirinya untuk menebus usianya yang hilang tanpa guna, menyesali hari-harinya yang berlalu tanpa diisi ketaatan kepada Allah, yang kesemuanya ini menimbulkan rasa sadar dan ingat, yang oleh para ulama sufi dinamakan sadar atau wa'zhan.
             Memberi nasihat tanpa kepura-puraan seumpama keadaan seperti ketika kau menyaksikan banjir yang melanda kampung, lalu menerjang rumah penduduk, maka kamu tentu akan berteriak-teriak, "Awaaas ... hati-hati! Cepaaat! Lariii!" Apakah ketika keadaan sudah gawat seperti itu, hati dan pikiranmu masih ingin memberitahukan penduduk dengan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang berat-berat dan sulit dipahami, atau menggunakan sandi-sandi atau isyarat-isyarat yang hanya dimengerti orang tertentu. Sekali-kali jangan menggunakan kata-kata seperti itu. Itu adalah kebiasaan pemberi nasihat dan tukang ceramah. Kau harus menghindari kebiasaan buruk ini.
    2. Kedua, memberi nasihat dimana nasihat-nasihatmu justru bisa menjadikan orang lari dari majelismu atau menjadikan majelismu sebagai suatu pertunjukan, kemudian kamu ingin pamer kemuliaan dan penampilan yang megah, sehingga orang lain mengatakan, "Sebaik-baik majelis adalah majelismu ini." Semua ini harus dihindarkan karena ini termasuk tanda-tanda majelis yang condong kepada dunia atau materi. Majelis yang demikian pasti lahir karena tidak ingat Allah, alias lupa.
             Seharusnya majelismu terbentuk karena didorong oleh keteguhan semangat, tekad dan cita-citamu untuk mengajak manusia dari cinta dunia menuju cinta akhirat; dari kemaksiatan untuk dibawa kepada ketaatan; dari ambisi dunia ditarik kesikap zuhud; dari kebakhilan diubah menjadi dermawan; dari lupa dan tertipu dibawa kepada ketaqwaan; dan jadikanlah mereka mencintai akhirat dan membenci dunia. Ajarilah mereka ilmu ibadah dan zuhud karena karakter manusia senang menyimpang dari jalan syari'at dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridlai Allah. Oleh sebab itu, tajamkan hatimu dengan rasa takut pada Allah dan hindarkanlah dari hal-hal yang tidak menjadikan hatimu takut kepadaNya.
             Sifat batin manusia bisa berubah-ubah dan perbuatan zahirnya juga bisa berganti-ganti. Karena itu, arahkan pandangan mereka untuk bersemangat dan senang melakukan ketaatan serta kembali dari kemaksiatan. Hendaklah perkataannya senantiasa berhubungan dengan masalah ilmu kezuhudan dan ibadah. Sepatutnya kau perhatikan keinginan mereka, apakah menyimpang dari keridhaan Allah atau tidak; perhatikan kecenderungan kalbu mereka, apakah menyimpang dari syarat atau tidak; dan juga perhatikan amalan dan akhlaknya yang tercela dan yang terpuji, akhlak manakah yang lebih dominan. Orang yang ketakutannya lebih dominan, kembalikanlah pada harapan {raja). Sebaliknya, orang yang harapannya lebih dominan, kembalikanlah pada ketakutan (khawf), dengan cara yang mereka pahami, sehingga pada akhirnya sifat-sifat tercela secara lahir dan batin akan sirna dan digantikan dengan sifat-sifat terpuji. Mereka akan selalu berhasrat pada ketaatan, setelah sebelumnya mereka malas untuk melakukannya. Mereka membenci kemaksiatan, setelah sebelumnya mereka rakus melakukannya.
    Ini adalah jalan peringatan dan nasihat. Setiap peringatan / nasihat yang tidak seperti yang disebutkan diatas adalah bencana bagi orang yang memberi nasihat maupun bagi yang mendengarkannya. Bahkan, pemberi nasihat yang menyesatkan adalah hantu-hantu gentayangan yang mengajak pergi manusia dari jalan keselamatan, untuk kemudian diajak ke tempat yang seram, lalu mereka dibinasakan. Karena itu, mereka harus menjauhi nasihat semacam ini dan orang yang memberikannya, karena meskipun nasihat-nasihatnya bermanfaat secara agama, nasihat itu tidak mampu menghindarkannya dari tarikan setan. Barangsiapa mempunyai tangan dan kekuasaan, maka wajib baginya menurunkan penasihat / pendakwah semacam ini dari mimbarnya dan mencekalnya supaya tidak bergaul dan mempengaruhi orang. Melakukan ini termasuk perintah agama.
  3. Hal ketiga, yang harus kau tinggalkan adalah janganlah bergaul dengan para penguasa dan sultan. Jangan memandang mereka karena, memandang mereka dan duduk semajelis dengan mereka, akan mendatangkan bencana besar. Jika kamu diuji dengan kehadiran mereka atau kau dekat dengan mereka, maka jangan sekali-kali kamu memuji-muji mereka, karena Allah murka terhadap orang yang memuji-muji orang fasik dan zalim. Barangsiapa berdoa untuk kelanggengan kekuasaan mereka, berarti ia suka terhadap orang yang membuat kemaksiatan di muka bumi.
  4. Hal keempat, janganlah kau menerima pemberian penguasa atau sultan, termasuk juga hadiah, walaupun kau tahu bahwa pemberian itu dari harta halal, karena tamak terhadap pemberian penguasa bisa merusak agama. Hal itu dikarenakan penerimaan ini bisa mendorong kamu bersikap menjilat, mengambil muka, mencari perhatiannya, dan bahkan setia menemaninya dalam kezaliman. Semua ini akan merusak agama, paling tidak kau senang dan berharap penguasa itu usianya panjang, kekuasaannya stabil dan lestari, sehingga kau tetap mendapatkan manfaat darinya, yaitu hadiah-hadiah dan berbagai pemberian. Barangsiapa senang terhadap kelanggengan kezaliman, berarti ia juga ikut mendukung adanya kezaliman dan bahkan ikut mendorong rusaknya alam. Hal mana yang lebih membahayakan agama dan menimbulkan akibat yang lebih besar daripada perbuatan ini. Hati-hatilah kau terhadap tipuan setan melalui pemberian para penguasa. Mungkin di antara tipuan itu akan berkata kepadamu, "Sebaiknya kamu mengambil dinar dan dirham pemberian para penguasa itu, yang kemudian kamu membagi-bagikannya kepada kaum fakir-miskin. Mereka memberikan nafkah dalam kefasikan dan kemaksiatan. sedangkan sedekahmu kepada orang-orang lemah lebih baik daripada sedekah mereka." Banyak orang terkutuk yang dipenggal leher mereka karena bisikan yang menyesatkan ini.

Empat Hal yang Harus Dilakukan

Adapun empat hal yang harus kau lakukan adalah sebagai berikut.

  1. Jadikanlah mu'amalah atau seluruh perbuatanmu bersama Allah. Artinya. seandainya budakmu bekerja sama dengamu, engkau rela menerimanya, engkau tidak sempit hati, tidak resah juga tidak marah. Engkau juga tidak rela jika budakmu diperlakukan tidak baik atau menerima balasan yang tidak pantas. Terhadap Allah, kamu harus lebih baik, karena ia junjunganmu yang hakiki.
  2. Setiap engkau bekerja dengan manusia. maka usahakanlah ia senang dan rela sebagaimana kau senang dan rela terhadap dirimu sendiri, karena iman seseorang tidak dianggap sempurna sampai orang itu mencintai seluruh manusia sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
  3. Jika engkau membaca atau mempelajari suatu ilmu; ilmu tersebut haruslah: yang bermanfaat untuk kau amalkan, yang sesuai dengan hatimu dan yang menyucikan jiwamu. Hal ini seperti jika kamu merasa bahwa usiamu tinggal seminggu, maka engkau tidak perlu menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu fiqih, akhlak, ushul fiqih, akhlak, ilmu kalam dan ilmu-ilmu sejenisnya (ilmu zahir), karena engkau sudah tahu bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak akan mencukupi atau memuaskan jiwamu. Sebaliknya, kau harus menyibukkan diri dengan mengontrol hati, memahami sifat-sifat jiwa dan nafsu, berpaling dari urusan keduniaan, menyucikan jiwa dari akhlak yang tercela, sibuk dengan mencintai Allah dan hambaNya serta menyempurnakan diri dengan sifat-sifat yangbaik. Siangdan malam tidak dilewatinya kecuali diisi dengan ibadah dan ingat kepada Allah serta berusaha dan memohon agar maut menjemputnya di saat-saat baik seperti ini.
           Wahai Anakku. dengarkanlah ucapan yang lain, kemudian renungkanlah sehingga engkau menemukan kesimpulannya. Seandainya kaau memperoleh berita bahwa seminggu lagi seorang Sultan atau Raja memilihmu jadi menteri. Sudah pasti kau pada saat-saat itu sibuk memperbaiki diri. Engkau akan berusaha, bersikap dan berperilaku sebaik mungkin karena kamu tahu bahwa pandangan dan penilaian Sultan sangat berpengaruh jadi tidaknya kau diangkat sebagai menteri. Pakaian, badan, penampilan, rumah dan bahkan kamar-kamar pribadimu, kau perbaiki sebaik mungkin, sehingga ketika utusan Sultan datang, ia berpikiran positif terhadapmu. Sekarang pikirkanlah sabda Rasulullah saw. ini:
    "Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk luarmu, juga tidak perbuatan zahirmu, akan tetapi Dia memandang hati dan niatmu." Jika engkmu benar-benar menginginkan ilmu yang membahas suasana batin, maka pelajarilah kitab Ihya' dan beberapa karangan saya lainnya. Ilmu batin adalah ilmu fardlu 'ain, sedangkan lainnya fardlu kifayah kecuali yang berkaitan dengan kewajiban melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah.
  4. Janganlah engkau meyimpan harta benda melebihi dari apa yang dibutuhkan. Rasulullah saw. bersabda: "Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad itu sekadar untuk mencukupi kebutuhan"


-- 5 / 6 --

source : Imam Al Ghazali, Risalah at-Tasawwuf

 Sumber: http://pustakahidayah.com/publisher/81





NASIHAT UNTUK PARA PENCARI KEBENARAN part 4 of 6

Imam Al-Ghazali

Makna Seorang Syekh atau Mursyid

Makna mendidik bagi seorang mursyid menyerupai pekerjaan seorang petani, yaitu sama dalam kemampuan mencabut duri dan rerumputan, kemudian mengeluarkan tanam-tanaman sampingan di sekitarnya yang sekiranya mengganggu tanaman pokok, sehingga tanaman yang dipelihara menjadi baik dan buahnya sempurna. Seorang syekh atau mursyid terhadap salik atau muridnya harus mampu menunjukkan dan mengantarkannya kejalan Allah, karena Allah telah mengutus seorang Rasul (utusan) kepada hamba-hambaNya agar menunjukkan mereka ke jalan Allah. Ketika Rasulullah saw. wafat, kedudukannya sebagai guru dan penuntun umat digantikan oleh para khalifahnya yang terpilih. Para khalifah ini mendidik dan mengantarkan umat kejalan Allah. Dengan demikian, para khalifah Rasul juga mempunyai peran sebagai guru, mursyid, syekh atau pendidik.

Syarat Seorang Syekh atau Mursyid

Syarat seorang syekh atau mursyid yang layak menjadi pengganti Rasulullah saw. haruslah orang yang alim. Akan tetapi, tidak setiap orang yang alim patut menduduki jabatan khalifah atau pengganti Rasulullah. Di bawah ini akan dijelaskan sebagian tanda orang alim yang pantas menjadi mursyid, agar tidak setiap orang yang alim mengaku-ngaku mursyid.
  • dia tidak mencintai dunia, jabatan dan kehormatan;
  • diapun telah dididik ditangan mursyid juga. Ia mengikuti mursyid yang memiliki penglihatan batin dan mursyidnya bersambung ke mursyid-mursyid sebelumnya hingga mata rantainya sampai kepada Rasulullah saw.;
  • dia senantiasa melatih jiwanya dan menjalankan riyadlah dengan sedikit makan, minum, bicara dan tidur
  • dia banyak melakukan shalat sunnah, sedekah dan puasa;
  • dia dikenal memiliki akhlak yang terpuji berupa sabar, tekun, syukur, tawakkal, yakin, berjiwa tenang (tumaninah), qana'ah, dermawan, tawadu', rendah hati, alim, jujur, punya rasa malu, tepat janji, wibawa, lembut dan tenang,
  • dia disucikan dari akhlak tercela seperti takabur, kikir, hasad, dengki, tamak, panjang angan-angan, gegabah dan sebagainya
  • dia harus terhindar dari fanatisme dan perasaan tak butuh ilmu dari yang lain karena merasa cukup dengan ilmunya sendiri (istagna)
maka ia adalah cahaya dari pancaran cahaya-cahaya Rasulullah saw. Orang yang seperti ini layak diikuti dan dijadikan mursyid. Akan tetapi, untuk menemukan yang seperti ini sangat sulit dan memang jarang. Sebab, banyak orang yang mengaku mursyid, tetapi pada dasarnya dia hanya mengajak manusia kepada permainan dan perbuatan yang tak berguna. Bahkan, ada atheis yang mengaku sebagi mursyid dengan menyimpang dari syari'ah.

Karena banyaknya orang yang mengaku mursyid, para mursyid yang sesungguhnya menjadi tersembunyi. Dengan beberapa hal yang telah kusebutkan, akan diketahui mursyid yang hakiki, yaitu yang tak menyimpang dari hal di atas. Tetapi jika menyimpang dari hal di atas, maka dia hanya orang yang mengaku sebagai mursyid.


Di antara kebahagiaan yang paling bahagia adalah menemukan mursyid atau syekh seperti yang yang tanda-tandanya kami sebutkan di muka, dan terlebih jika dia menerima sebagai muridnya. Jika sudah menemukannya, maka murid wajib memuliakannya secara lahir dan batin.

Memuliakan Mursyid Secara Lahir dan Batin


Menghormati mursyid secara lahir di antara bentuknya adalah tidak mendebatnya dan tidak mengajaknya adu argumen dalam setiap masalah, walaupun ia menemukan mursyidnya bersalah. Di samping itu, ia tidak menginjak sajadah mursyidnya dan tidak duduk dikarpetnya kecuali di saat menunaikan shalat berjamaah dengannya, dan jika selesai shalat, sajadah dan karpetnya diangkat. Ia juga tidak banyak melakukan shalat sunnah ketika mursyidnya sedang hadir dan siap melaksanakan perintahnya dengan sekuat tenaga dan kesempatan.yang dimilikinya.


Adapun menghormati mursyid secara batin adalah tidak munafik kepadanya. Setiap apa yang didengar dari mursyidnya, lalu diterimanya sebagai nasihat dan petunjuk secara lahir, maka batinnya tidak boleh mengingkarinya, baik secara ucapan maupun tindakan, agar ia tidak disifati munafik. Jika tidak mampu meninggalkan teman yang bisa mencocokkan batin dan lahir, ucapan dan perbuatan, maka jagalah dirimu dari berkawan dengan orang-orang yang berakhlak jelek, supaya ruang gerak setan dari bangsa jin dan manusia terbatas, sehingga batinmu tetap jernih dan tidak terkotori oleh bisikan setan. Dalam setiap keadaan, pilihlah kefakiran daripada kaya.

Dua Karakter Utama Tasawuf


Kemudian, ketahuilah, bahwa tasawuf memiliki dua karakter utama, yaitu istiqamah dan diam (tidak terpengaruh oleh ulah makhluk).


Barangsiapa beristiqamah, tetap dalam kebaikan, berakhlak baik kepada semua manusia, dan mempergauli mereka dengan sikap asih dan dermawan, maka ia adalah seorang sufi. Istiqamah adalah menebus bagian dirinya untuk dirinya. Di antara tanda akhlak yang baik adalah tidak mengajak manusia untuk mengikuti kehendak dirinya sendiri, tetapi mengajak dirimu kepada kehendak orang banyak, selama kehendak mereka tidak menentang syari'at. Artinya, tidak egois terhadap kebenaran dirinya sendiri, tetapi menuruti kebenaran umum yang sesuai dengan syara'.


Makna Ibadah

Engkau juga menanyakan kepada saya persoalan ibadah. Ketahuilah, ibadah ada tiga macam.

  • Pertama, menjaga (memahami dan mengamalkan secara istiqamah) syari'at.
  • Kedua, ridla terhadap semua qadla', qadar dan pembagian Allah.
  • Ketiga, meninggalkan ridla terhadap dirinya sendiri dalam rangka mencari ridla Allah.

Makna Tawakal


Engkau pun bertanya kepada saya tentang tawakkal. Ketahuilah, tawakkal adalah keteguhan keyakinanmu terhadap Allah atas apa yang dijanjikanNya. Artinya, kau yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa apa yang telah ditakdirkan atau digariskan atau dinasibkan kepadamu pasti akan sampai kepadamu, walaupun semua orang di dunia berusaha mencegah dan mengalihkannya darimu. Sebaliknya, apapun yang tidak dipastikan atau dicatatkan untukmu juga tidak akan sampai kepadamu, sekalipun seluruh penduduk alam menolongmu menuju kesana.

Makna Ikhlas


Engkau juga bertanya kepadaku tentang ikhlas. Ketahuilah, ikhlas adalah seluruh amalmu yang kau peruntukkan kepada Allah semata. Hatimu tidak terpengaruh oleh pujian manusia dan kau tidak mempedulikan cercaan mereka. Ketahuilah, ria' lahir karena mengagung-agungkan makhluk. Cara untuk menghilangkan ria' adalah dengan memandang mereka tidak berarti, tidak punya kuasa, dan tunduk di bawah kekuasaan Allah. Kau memandang mereka seperti benda-benda tidak bernyawa yang tidak mempunyai kuasa dan kemampuan mendatangkan kesenangan dan kesengsaraan, sehingga kau berhasil membersihkan hatimu dari penglihatan mereka. Selama engkau masih memiliki pandangan bahwa makhluk mempunyai kuasa dan kekuatan serta kehendak, maka ria' tidak akan terjauhkan darimu.


Wahai Anakku, sisa dari permasalahanmu sebagian sudah terjawab dalam beberapa kitab susunan saya, maka carilah sendiri. engkau kerjakan semampumu atas apa yang telah kau ketahui agar apa yang belum engkau ketahui disingkapkan oleh Allah.


Wahai Anakku, setelah ini, janganlah engkau bertanya kepada saya tentang sesuatu yang akan semakin memberatkanmu kecuali engkau bertanya dengan lidah hati. Allah swt. berfirman: "Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka." (QS. Al Hujurat: 5).


Terimalah nasihat Nabi Khidir as ketika berkata: "Janganlah engkau menanyakan kepada saya tentang suatu apapun sampai saya sendiri menerangkannya kepadamu." (QS. Al Kahfi: 70).


Jangan pula engkau terburu-buru bertanya hingga jawaban itu sampai kepadamu atau disingkapkan kepadamu suatu rahasia dan engkau melihatnya: "Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda azabKu. Maka janganlah engkau minta kepadaKu mendatangkannya dengan segera." (QS. Al Anbiya': 37).

Janganlah engkau bertanya kepadaku sebelum waktunya. Yakinlah bahwa engkau tidak akan sampai kecuali dengan berjalan menempuhnya, karena Allah berfirman: "Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan." (QS. Al Rum: 9).


Wahai Anakku, jika engkau berjalan dengan Allah, engkau akan melihat banyak keajaiban di setiap tempat yang engkau singgahi. Persembahkan ruhmu, karena modal utama perjalanan ini adalah keberanian mempersembahkan ruh, sebagai mana yang dikatakan Dzu Al Nun Al Mishr kepada salah seorang muridnya, "Jika engkau mampu mempersembahkan ruh, maka berangkatlah. Jika tidak mampu, maka jangan sekali-kali menyibukkan diri dengan laku sufi."




-- 4 / 6 --

source : Imam Al Ghazali, Risalah at-Tasawwuf


Sumber: http://pustakahidayah.com/publisher/80





NASIHAT UNTUK PARA PENCARI KEBENARAN part 3 of 6

Imam Al Ghazali 


Hal yang Wajib Bagi Murid yang Menempuh Jalan al Haq 

Wahai Anakku, sebagian pertanyaanmu sudah terjawab. Sebagian yang lain jawabannya telah kami sebutkan dalam kitab Ihya' dan beberapa kitab yang lain. Sampai di sini, ingat-ingatlah penjelasan tersebut. Sekarang kami akan memulainya lagi. Kami katakan bahwa seorang perambah kebenaran yang sedang menuju Tuhan, wajib menempuh beberapa langkah.


Pertama, memiliki keyakinan yang benar dan tidak mengandung bid'ah.


Kedua, tobat nashuha atau tobat yang benar dan setelahnya tidak kembali lagi melakukan kesalahan.


Ketiga, minta kerelaan atau keikhlasan orang yang pernah dianiaya atau disakiti sehingga tidak ada lagi orang yang menuntut haknya kepadamu.


Keempat, menguasai ilmu syari'at yang cukup mengantarkanmu untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, kemudian ilmu-ilmu akhirat yang lain yang akan menyelamatkanmu dari murka Allah.


Dikisahkan bahwa Al Syibii pernah berguru, melayani dan menemani 400 guru. Kemudian ia berkata. "Saya telah membaca 4.000 hadis. kemudian saya memilih satu hadis dan mengamalkannya, sedangkan sisanya saya kesampingkan, karena saya telah merenungkannya masak-masak, lalu saya menemukan keselamatanku dalam pengamalan satu hadis itu. Ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang datang kemudian, seluruhnya terangkum dalam satu hadis itu, maka saya mencukupkan dengannya. Demikian itu saya lakukan karena Rasulullah saw. berkata kepada sebagian sahabatnya: "Beramallah untuk duniamu sesuai dengan kadar maqammu (kedudukan). Beramallah untuk akhiratmu sesuai dengan kadar keabadianmu di dalamnya. Beramallah untuk Allah sesuai dengan kebutuhanmu kepadaNya. Beramallah untuk neraka sesuai dengan kadar kesabaranmu (ketahananmu) untuk menghadapinva."


Wahai Anakku, jika engkau mengetahui hadis ini. maka kau tidak memerlukan lagi ilmu yang banyak.


Renungkanlah hikayat lain, yaitu tentang Hatim Al Ashammi. Ia telah mengabdi dan berguru kepada Syaqiq Al Balkhiy. Suatu hari, gurunya bertanya, "Kau telah menemaniku semenjak, 30 tahun silam. Apa yang engkau peroleh selama itu?" "Saya mendapatkan delapan faidah dari ilmu yang engkau ajarkan," jawah Hatim. "Kedelapannya sudah mencukupi saya karena saya hanya mengharapkan keselamatan dengannya," lanjut Hatim. "Apa saja itu," tanya Syaqiq. Hatim kemudian menjelaskannya sebagaimana berikut : 
  • Faidah yang pertama, saya memperhatikan manusia, lalu saya melihat setiap orang memiliki kekasih yang selalu dicintai dan dirindukan. Sebagian orang mempunyai kekasih yang kekasihnya itu menemaninya hingga ia sakit sampai membawanya pada kematian. Sebagian lagi menemaninya sampai ke liang lahat, kemudian kekasihnya itu meninggalkannya sendirian. la tidak mau ikut masuk ke dalam kubur. Tidak satu pun kekasih vang selama di dunia dikasihaninva bersedia menemaninya masuk ke liang lahat. Saya pun berpikir dan akhirnya berkata, "Kekasih yang paling utama adalah kekasih yang dengan setia menemani kekasihnya hingga ke liang lahat dan menghiburnya di dalam kuburannya. Saya tidak menemukan kekasih seperti ini selain amal shalih. Karena itu, saya mengambilnya jadi kekasih agar ia menjadi lampu saya di kuburan, menemani saya dengan setia dan tidak meninggalkan saya sendirian."
  • Faidah kedua, saya melihat manusia menuruti hawa nafsu mereka dan bersegera memenuhi kehendak nafsu, lalu saya ingat firman Allah: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (Q.S. An Nazi'at: 10-11). Saya yakin bahwa Al Quran benar, maka saya bersegera menentang hawa nafsu saya. menyingsingkan lengan untuk memerangi keinginannya dan kenikmatan dunia yang dicita-citakannya, sampai saya benar-benar ridla mentaati Allah.
  • Faidah ketiga, saya melihat setiap manusia berusaha mendapatkan dunia dan mengumpulkan serpih-serpihannya, kemudian menahan dan menyimpannya. Lalu saya berpikir dan ingat firman Allah: "Apa yang di sisimu akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal." (QS. an-Nahl: 96). Sejak itu, kenikmatan dunia yang saya peroleh saya gunakan untuk mencari ridla Allah. Harta benda yang saya miliki saya bagi-bagikan kepada kaum fakir-miskin agar menjadi simpanan saya di sisi Allah.
  • Faidah keempat, saya melihat manusia menduga bahwa kemuliaan dan kejayaan terletak pada banyaknya pengikut, keluarga yang kuat kuat dan keturunan, lalu mereka tertipu dengan apa yang dibangga-banggakan. Sebagian orang merasa yakin bahwa harta dan keturunan yang banyak adalah sumber kemuliaan, lalu mereka memilih dan membangga-banggakannya. Ada pula yang menduga bahwa kemuliaan dan kejayaan terletak pada keberhasilan merampas harta orang-orang, menganiaya dan menumpahkan darah mereka. Juga ada sekelompok orang yang yakin bahwa merusak harta atau menghabiskannya dan menghambur-hamhurkannya adalah tanda kemuliaan, lalu saya berpikir dan ingat firman Allah: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu." (Qs. Al Hujurat: 13). Maka saya memilih ketaqwaan dan saya yakin bahwa Al Quran adalah benar, sedangkan dugaan mereka semua adalah salah.
  • Faidah kelima, saya melihat manusia saling mencela dan menggunjing. Saya pun sadar bahwa semua itu disebabkan oleh hasud yang bersumber pada masalah harta, kehormatan dan ilmu. Saya akhirnya berpikir dan ingat firman Allah: "Kami telah menentukan diantara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia."(QS.Az-Zukhruf:32). Saya pun sadar bahwa pembagian dari Allah yang sudah ditetapkan sejak zaman Azali, maka saya tidak hasud kepada siapapun dan ridla atas pembagian Allah.
  • Faidah keenam, saya melihat manusia saling memusuhi, mengumpat dan mencela, lalu saya merenung dan ingat firman Allah: "Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh[mu]." (QS. Fathir: 6). Saya pun mengetahui bahwa tidak ada yang boleh dijadikan musuh selain setan.
  • Faidah ketujuh, saya melihat setiap orang berusaha, mencari dan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh makanan dan kehidupan yang mapan, lalu ia terjatuh keperbuatan atau barang yang syubhat dan haram, merendahkan jiwanya dan mengurangi derajat kemanusiaannya. Saya pun berpikir dan menemukan firman Allah: "Dan tidak ada binatang yang melata di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya." (QS. Hud: 6). Saya pun tahu bahwa rezeki saya ditanggung Allah. Saya pun pasrah dan sibuk beribadah kepadaNya serta memangkas ambisiku kepada selainNya.
  • Faidah kedelapan, saya melihat hampir setiap orang menyandarkan hidupnya pada sesuatu yang dimiliki makhluk. Sebagian menyandarkannya kepada dinar dan dirham. Sebagian lagi kepada harta dan kekuasaan. Sebagian kepada jabatan dan perusahaan, dan sebagian yang lain kepada sesama makhluk. Lalu saya berpikir dan menemukan firman Allah: "Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan [keperluan]nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan [yang dikehendaki]Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (qs. Al Thalaq: 3). Setelah itu, saya pasrah total kepada Allah, karena hanya Dia yang mencukupiku dan sebaik-baik Wakilku (penolong). 

Setelah mendengar penuturan Hatim dengan delapan kesimpulannya itu, Syaqiq berkata, "Semoga Allah senantiasa memberimu taufiq. Saya pernah mempelajari Taurat, Injil, Zabur dan Al Quran, dan saya menemukan isi dari keempat kitab ini berputar sekitar delapan faidah itu. Barangsiapa mengamalkannya, berarti ia telah memahami keempat Kitab Suci ini."


Wahai Anakku, dari dua hikayat ini saya tahu bahwa engkau tidak butuh banyak ilmu. Sekarang saya akan menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh seorang salik atau perambah jalan sufi atau jalan spiritual menuju Allah.


Kelima, ketahuilah, seorang salik atau murid sufi harus mempunyai maha guru spiritual atau mursyid yang mampu mendidik muridnya untuk menghilangkan akhlak jeleknya dari dirinya, kemudian menjadikannya orang yang berakhlak baik dan mulia.



-- 3 / 6 --

source : Imam Al Ghazali, Risalah at-Tasawwuf



Sumber: http://pustakahidayah.com/publisher/79


Rabu, 10 Agustus 2011

Berpikirlah Sejak Anda Bangun Tidur

HARUN YAHYA 

Tidak diperlukan kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai berpikir. Bahkan bagi orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari pun terdapat banyak sekali hal-hal yang dapat mendorongnya berpikir.

Terpampang sebuah hari yang panjang dihadapan seseorang yang baru saja bangun dari pembaringannya di pagi hari. Sebuah hari dimana rasa capai atau kantuk seakan telah sirna. Ia siap untuk memulai harinya. Ketika berpikir akan hal ini, ia teringat sebuah firman Allah: 

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (QS. Al-Furqaan, 25: 47)
Setelah membasuh muka dan mandi, ia merasa benar-benar terjaga dan berada dalam kesadarannya secara penuh. Sekarang ia siap untuk berpikir tentang berbagai persoalan yang bermanfaat untuknya. Banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan dari sekedar memikirkan makanan apa yang dipunyainya untuk sarapan pagi atau pukul berapa ia harus berangkat dari rumah. Dan pertama kali ia harus memikirkan tentang hal yang lebih penting ini.

Pertama-tama, bagaimana ia mampu bangun di pagi hari adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Kendatipun telah kehilangan kesadaran sama sekali sewaktu tidur, namun di keesokan harinya ia kembali lagi kepada kesadaran dan kepribadiannya. Jantungnya berdetak, ia dapat bernapas, berbicara dan melihat. Padahal di saat ia pergi tidur, tidak ada jaminan bahwa semua hal ini akan kembali seperti sediakala di pagi harinya. Tidak pula ia mengalami musibah apapun malam itu. Misalnya, kealpaan tetangga yang tinggal di sebelah rumah dapat menyebabkan kebocoran gas yang dapat meledak dan membangunkannya malam itu. Sebuah bencana alam yang dapat merenggut nyawanya dapat saja terjadi di daerah tempat tinggalnya. 

Ia mungkin saja mengalami masalah dengan fisiknya. Sebagai contoh, bisa saja ia bangun tidur dengan rasa sakit yang luar biasa pada ginjal atau kepalanya. Namun tak satupun ini terjadi dan ia bangun tidur dalam keadaan selamat dan sehat. Memikirkan yang demikian mendorongnya untuk berterima kasih kepada Allah atas kasih sayang dan penjagaan yang diberikan-Nya. 

Memulai hari yang baru dengan kesehatan yang prima memiliki makna bahwa Allah kembali memberikan seseorang sebuah kesempatan yang dapat dipergunakannya untuk mendapatkan keberuntungan yang lebih baik di akhirat. Ingat akan semua ini, maka sikap yang paling sesuai adalah menghabiskan waktu di hari itu dengan cara yang diridhai Allah. 

Sebelum segala sesuatu yang lain, seseorang pertama kali hendaknya merencanakan dan sibuk memikirkan hal-hal semacam ini. Titik awal dalam mendapatkan keridhaan Allah adalah dengan memohon kepada Allah agar memudahkannya dalam mengatasi masalah ini. Doa Nabi Sulaiman adalah tauladan yang baik bagi orang-orang yang beriman: Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh (QS. An-Naml, 27 : 19)  


Bagaimana kelemahan manusia mendorong seseorang untuk berpikir?Tubuh manusia yang demikian lemah ketika baru saja bangun dari tidur dapat mendorong manusia untuk berpikir: setiap pagi ia harus membasuh muka dan menggosok gigi. Sadar akan hal ini, ia pun merenungkan tentang kelemahan-kelemahannya yang lain. Keharusannya untuk mandi setiap hari, penampilannya yang akan terlihat mengerikan jika tubuhnya tidak ditutupi oleh kulit ari, dan ketidakmampuannya menahan rasa kantuk, lapar dan dahaga, semuanya adalah bukti-bukti tentang kelemahan dirinya.  


Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. 
(QS. Ar-Ruum, 30: 54) 
Bagi orang yang telah berusia lanjut, bayangan dirinya di dalam cermin dapat memunculkan beragam pikiran dalam benaknya. Ketika menginjak usia dua dekade dari masa hidupnya, tanda-tanda proses penuaan telah terlihat di wajahya. Di usia yang ketigapuluhan, lipatan-lipatan kulit mulai kelihatan di bawah kelopak mata dan di sekitar mulutnya, kulitnya tidak lagi mulus sebagaimana sebelumnya, perubahan bentuk fisik terlihat di sebagian besar tubuhnya. Ketika memasuki usia yang semakin senja, rambutnya memutih dan tangannya menjadi rapuh. 


Bagi orang yang berpikir tentang hal ini, usia senja adalah peristiwa yang paling nyata yang menunjukkan sifat fana dari kehidupan dunia dan mencegahnya dari kecintaan dan kerakusan akan dunia. Orang yang memasuki usia tua memahami bahwa detik-detik menuju kematian telah dekat. Jasadnya mengalami proses penuaan dan sedang dalam proses meninggalkan dunia ini. Tubuhnya sedikit demi sedikit mulai melemah kendatipun ruhnya tidaklah berubah menjadi tua. Sebagian besar manusia sangat terpukau oleh ketampanan atau merasa rendah dikarenakan keburukan wajah mereka semasa masih muda.

Pada umumnya, manusia yang dahulunya berwajah tampan ataupun cantik bersikap arogan, sebaliknya yang di masa lalu berwajah tidak menarik merasa rendah diri dan tidak bahagia. Proses penuaan adalah bukti nyata yang menunjukkan sifat sementara dari kecantikan atau keburukan penampilan seseorang. Sehingga dapat diterima dan masuk akal jika yang dinilai dan dibalas oleh Allah adalah akhlaq baik beserta komitmen yang diperlihatkan seseorang kepada Allah.  


Setiap saat ketika menghadapi segala kelemahannya manusia berpikir bahwa satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Besar serta jauh dari segala ketidaksempurnaan adalah Allah, dan iapun mengagungkan kebesaran Allah. Allah menciptakan setiap kelemahan manusia dengan sebuah tujuan ataupun makna. Termasuk dalam tujuan ini adalah agar manusia tidak terlalu cinta kepada kehidupan dunia, dan tidak terpedaya dengan segala yang mereka punyai dalam kehidupan dunia. Seseorang yang mampu memahami hal ini dengan berpikir akan mendambakan agar Allah menciptakan dirinya di akhirat kelak bebas dari segala kelemahan. 

Segala kelemahan manusia mengingatkan akan satu hal yang menarik untuk direnungkan: tanaman mawar yang muncul dan tumbuh dari tanah yang hitam ternyata memiliki bau yang demikian harum. Sebaliknya, bau yang sangat tidak sedap muncul dari orang yang tidak merawat tubuhnya. Khususnya bagi mereka yang sombong dan membanggakan diri, ini adalah sesuatu yang seharusnya mereka pikirkan dan ambil pelajaran darinya.  




DIAMBIL DARI BAGAIMANA SEORANG MUSLIM BERPIKIR?
KARYA HARUN YAHYA, ROBBANI PRESS, INDONESIA, 2000
© Harun Yahya Internasional 2004.
Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini
info@harunyahya.com
Sumber :http://pustakahidayah.com/publisher/2
 

NASIHAT UNTUK PARA PENCARI KEBENARAN part 2 of 6

Imam Al Gazali 

Ilmu Tanpa Amal Adalah Gila dan Amal Tanpa Ilmu Tidak Berguna

Wahai Anakku, berapa banyak malam yang engkau menghidupkannya dengan mendalami ilmu dan mempelajari buku-buku serta menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tidur: Saya tidak tahu faktor apa yang membangkitkanmu melakukan itu, meskipun kau memperoleh harta benda yang banyak, menarik kendalinya, mendapatkan berbagai kedudukan, dan membangga-banggakan keberhasilan itu di depan teman-teman dan orang-orang yang seangkatan denganmu. Celakalah kamu dan kamu benar-benar celaka! Jika tujuanmu dan seluruh perbuatanmu itu untuk menghidupkan syari'at Nabi saw., mendidik akhlak dan menahan nafsu amarah, maka berbahagialah kamu, kemudian berbahagialah kamu.

Terjaga matamu untuk selain Wajah- Mu
Hanyalah kesia-sian
Tangisanmu karena kehilangan kekasih selain-Mu
Hanyalah kebatilan

Wahai Anakku, hiduplah sekehendakmu! maka sesungguhnya engkau akan mati. Cintailah siapa saja yang engkau kehendaki! maka sesungguhnya engkau pasti berpisah dengannya. Ber-amal-lah sekehendakmu! maka sesungguhnya engkau pasti dibalas atas perbuatan itu.

Wahai Anakku, manfaat apa yang kau peroleh dengan keberhasilanmu menguasai ilmu kalam, ilmu debat, ilmu kedokteran, ilmu undang-undang kepemerintahan, ilmu syair, perbintangan, ilmu musik, dan tata bahasa. Saya melihatmu tidak memperoleh manfaat apa-apa selain umurmu yang tersia-sia dengan menentang Tuhanmu. Sesungguhnya saya melihat di dalam Injil Isa as berkata, "Satu jam saja yang disia-siakan dari seluruh usianya hingga orang itu menjadi jenazah yang diantarkan ke kuburan akan ditanya oleh Allah dengan 40 pertanyaan. Pertama akan ditanya, 'HambaKu, selama bertahun-tahun kamu mensucikan tubuhmu dari (karena) pandangan makhluk, dan kamu tidak mensucikannya satu saat pun dari (karena) pandanganKu, padahal setiap hari Allah memandang hatimu dengan berkata: Kamu telah berbuat untuk selainKu, padahal kamu dikelilingi dengan kebaikanKu. Engkau tuli tidak mendengar."

Wahai Anakku, ilmu tanpa amal adalah gila dan amal tanpa ilmu tidak berguna.

Ketahuilah, ilmu yang pada hari di mana kau hidup tidak menjauhkanmu dari maksiat, tidak membawamu pada ketaatan, dan kelak tidak menjauhkanmu dari neraka Jahannam. Jika pada hari itu kau tidak mengamalkannya dan tidak menebus hari-hari yang telah lewat dengan mengamalkan ilmu, maka kelak di hari kiamat kau akan berkata, "Tuhan, kembalikan kami ke dunia, kami akan beramal shalih." Keluhan itu akan dijawab, "Hai orang tolol, dari sana kamu datang!" Wahai Anakku, jadikanlah cita-cita dan semangat yang tinggi dalam ruhmu, keteguhan di dalam jiwa, dan kematian dalam badan, karena tempat kembalimu adalah kuburan. Penghuni kubur selalu menantimu setiap saat dan bertanya-tanya kapan kau menyusul mereka. Karena itu, hati-hatilah jangan sampai engkau menyusul mereka dengan tanpa bekal.Abu Bakar Shiddiq ra berkata. "Ini adalah jasad yang menjadi sarang burung atau menjadi liang binatang melata. Berpikirlah kamu! Renungkanlah dirimu. mana di antara dua pilihan itu yang engkau pilih. Jika kau ingin jasadmu menjadi burung yang terbang tinggi, maka dengarkanlah dengung panggilan Tuhan. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan terbang tinggi ke hadiratNya,lalu hinggap di pelataranNya yang tinggi dengan permata hatimu. Rasulullah saw. bersabda: "Arsy Dzat Yang 'Maha Pengasih bergetar hebat karena kematian Su'ad bin Mu'udz."

Engkau berlindunglah kepada Allah agar jasadmu tidak menjadi liang binatang melata. Allah swt. berfirman: "Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi." (QS.Al Araf:179). Jika sudah demikian, tandanya kau tidak aman. Kepindahanmu dari pojok kampung dunia ke dasar neraka tidak aman. Kau dilemparkan dari dunia ke jurang neraka yang terdalam. Diriwayatkan bahwa Hasan Basri diberi segelas minuman air putih yang dingin. Ia mengambil gelas itu dan tiba-tiba ia tidak sadar sehingga gelas itu terjatuh dari tangannya. Ketika sudah siuman, ia ditanya, "Mengapa engkau, hai Abu Sa'id (panggilan Hasan Basri)?" la menjawab, "Saya ingat angan-angan penduduk neraka ketika mereka berkata kepada penduduk surga, 'Berilah kami sedikit air atau rezeki yang kamu terima dari Allah.'"

Wahai Anakku, seandainya ilmu saja sudah kau anggap cukup dan kau tidak butuh amal selain ilmu itu, tentu ada seruan yang bertanya-tanya, "Adakah ia seorang pemohon, adakah ia seorang yang minta ampun, adakah ia seorang yang bertobat? Ia adalah seorang yang sia-sia dan tidak memiliki faidah." Diriwayatkan bahwa sekelompok sahabat mendatangi Rasulullah saw. dan mengadukan kepada beliau perihal Abdullah bin 'Umar; lalu dijawab, "Sebaik-baik pria adalah ia seandainya ia shalat malam."

Rasulullah saw. berkata kepada salah seorang sahabatnya, "Hai Fulan Janganlah kamu banyak tidur malam, karena banyak tidur malam menyebabkannya fakir pada hari kiamat."

Wahai Anakku, di sebagian malam, bertahajjudlah kamu. Jadikanlah tahajjud sebagai perintah. Di waktu sahur, mereka yang mohon ampun adalah bersyukur. Orang-orang yang mohon ampun di waktu sahur adalah dzikir. Rasulullah saw. bersabda: "Tiga suara yang dicintai Allah [adalah]: suara kokok ayam jantan, suara orang membaca Al Quran dan suara orang mohon ampun di waktu sahur."

Sufyan Al Tsauri berkata, "Sesungguhnya Allah menciptakan angin di waktu sahur untuk membawa dzikir dan istigfar ke Dzat Maha Raja dan Maha Perkasa." Ia juga berkata,

"Jika sudah memasuki awal malam, ada seruan yang menyeru dari bawah Arsy:
Ingatlah, bangunlah, hai orang-orang yang ahli ibadah.
Mereka pun bangun dan shalat seperti yang dikehendaki Allah.

Kemudian di pertengahan malam, ada seruan lagi yang menyeru:
Ingatlah, bangunlah, hai orang-orang yang taat.
Mereka pun bangun dan shalat hingga waktu sahur.

Jika sudah memasuki waktu sahur, ada seruan lagi yang menyeru:
Ingatlah, bangunlah, hai orang-orang yang mohon ampun.
Mereka pun bangun dan mohon ampun.

Ketika waktu fajar telah tiba, ada seruan lagi yang menyeru:
Ingatlah, bangunlah, hai orang-orang yang lupa.
Mereka pun bangun dari tempat tidur mereka seperti mayit-mayit yang bangkit dari kuburan mereka."

Wahai Anakku, diriwayatkan dalam wasiat Luqman Al Hakim yang berkata kepada anaknya, "Wahai anakku jangan sampai ayam jantan lebih pintar daripada kamu. Ayam jantan itu menyeru di waktu sahur, sedangkan engkau tidur."

Di tengah malam, merpati membisikkan suara
Dengan suara yang merdu dan lembut
Sedangkan kau enak-enakkan tidur
Demi Baitullah, kau berdusta
Seandainya kau mengatakan sebagai perindu Allah
Tentu burung-burung merpati itu.
Tidak meratapi tidurmu
Bangunlah, sesungguhnya kau orang yang bingung
Kau pikir, kau seorang Pencinta Tuhanmu
Tetapi engkau tidak menangis
Sementara merpati itu menangis . 

Hakikat Ilmu

Wahai Anakku, hakikat ilmu adalah kesadaranmu bahwa ketaatan dan ibadah adalah inti ilmu.

Ketahuilah. ketaatan dan ibadah mengikuti Pembuat syari'at dalam semua perintah dan larangan, dengan ucapan dan tindakan. Artinya, setiap yang kamu katakan, yang kamu kerjakan, yang kamu tinggalkan dan yang kamu tekuni, dijalani dengan mengikuti syari'at. Jika kamu mengerjakan sesuatu perbuatan yang tidak diperintahkan seperti itu, maka itu bukan ibadah. Sebagaimana juga jika kamu berpuasa pada hari Raya dan hari-hari Tasyriq, maka kamu dihitung maksiat; atau kamu shalat dengan pakaian yang dibenci Allah, maka kamu dihukumi berbuat dosa, meskipun dua perbuatan itu bentuk zahirnya ibadah.

Wahai Anakku, haruslah ucapan dan tindakanmu sesuai dengan syari'at, karena ilmu dan amal dengan tanpa mengikuti syari'at adalah tersesat.

Kamu juga tidak boleh tergoda atau tertipu oleh polesan dan sebutan sufi, karena jalan sufi hanya ditempuh dengan mujahadah, berjuang sungguh-sungguh, memutus hawa nafsu dan membunuh dorongan syahwat dengan pedang riyadlah (latihan spiritual dengan mengendalikan hawa nafsu), tidak dengan polesan, sebutan atau atribut-atribut sufi.

Ketahuilah, lidah dan hati yang dipenuhi dengan kelupaan dan syahwat adalah tanda-tanda kesengsaraan, sehingga seandainya engkau tidak membunuh nafsu dengan mujahadah yang benar, maka hatimu tidak akan dihidupkan dengan cahaya ma'rifat.

Ketahuilah. sebagian masalahmu yang kamu tanyakan ke pada saya tidak cukup dijawab dengan tulisan, buku atau ucapan. Mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah mustahil karena itu adalah persoalan dzauq atau rasa. Setiap yang masuk kategori dzauq atau rasa tidak bisa dijelaskan atau disifati dengan ucapan, sebagaimana manisnya manisan dan pahitnya empedu tidak bisa diketahui kecuali dengan dzauq atau rasa. Sebagai contoh, dikisahkan, seseorang yang impoten menulis surat kepada temannya, "Beritahu saya kelezatan hubungan seksual, bagaimana adanya dan rasanya." Temannya menjawab. "Wahai Temanku. Sebelumnya saya telah mendugamu pasti kamu adalah seorang yang impoten, dan sekarang saya tahu bahwa, selain kamu orang yang impoten, kamu juga seorang yang tolol, karena kelezatan seksual adalah masalah rasa. Jika hanya dari sekedar tahu saja, kamu tidak akan mungkin memahami, karena pengetahuan ini tidak mungkin diperoleh dengan digambarkan secara ucapan dan tulisan."

-- 2 / 6 --
source : Imam Al Gazali, Risalah at-Tasawwuf


Sumber : http://pustakahidayah.com/publisher/78