Sabtu, 12 Oktober 2013

Fuad Rumi, Sang Penggelitik itu telah pergi

Fuad Rumi

Beberapa hari yang lalu, saya sedang berdiskusi dengan seorang teman tentang berbagai hal menyangkut pekerjaan. Dan pembicaraan pun melebar ke soal tulisan atau rubrik yang paling disukai dibaca apabila berhadapan dengan surat kabar. Teman saya itu pun berkata bahwa dia paling suka dengan rubrik "Gelitik" yang ada di Harian Fajar setiap Jum'at dan digawangi oleh bapak Fuad Rumi. Saya langsung menimpali dengan mengatakan kok kolom rubrik kesukaan kita sama ya. Teman saya pun berkata, tapi sayang rubrik gelitik  tidak bakalan kita nikmati lagi, karena beliau Fuad Rumi telah pergi untuk selamanya.

Senin, 15 Juli, pukul 10.20 Wita, di RSPAD Jakarta, dia telah berpulang ke rahmatullah. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun. Fuad Rumi, Sang Penggelitik itu telah pergi. Kolomnis Fajar: Gelitik, itu telah menghadap Tuhan-nya. Fuad Rumi meninggal dunia setelah sakit beberapa pekan.

Tidak hanya saya, tapi banyak yang kehilangan atas kepergian beliau, Itu past. Bukan hanya civitas akademika Universitas Muslim Indonesia (UMI), sahabat-sahabatnya, orang-orang yang selama ini menganggapnya sebagai guru, tapi juga para penikmat tulisannya.

Setiap pekan, Fuad Rumi memang selalu muncul dengan tulisan-tulisan menggelitiknya yang sarat kritik. Sebagai salah seorang yang senang membaca buah pikiran Fuad Rumi, saya sering menyempatkan waktu tersendiri untuk menyimak gelitik tulisan beliau punya ciri khas tersendiri. 

Sebelum memuat beberapa tulisan beliau di blog ini, tepatnya tanggal 19 November 2011, saya mengirim pesan berupa pertanyaan kepada beliau melalui facebook. Saya menanyakan tentang apakah kumpulan tulisan beliau di kolom Gelitik Harian Fajar telah dibukukan, dan kalau sudah dibukukan, dimana saya bisa mendapatkannya. Pada tanggal 20 November 2011, beliau menjawab pertanyaan saya melalui inbox saya di facebook. Jawaban beliau, "Alkm slm. Terimakasih apresiasinya. Tulisan2 saya di Fajar belum diterbitkan dlm buku. Wslm." 

Atas jawaban beliau itulah, saya berinisiatif memuat ulang di blog ini beberapa tulisan beliau sebagai bahan renungan dan pelajaran bagi para pembaca yang budiman.

Selamat Jalan Pak Kiyai, Semoga Allah SWT memberimu tempat yang layak disisiNya. Doa kami teriring selalu untukmu. Tentu saya dan para pembaca gelitik lainnya sangat kehilangan dan pastinya kami bangga pernah bersama mu, paling kurang bersamamu di kolom Gelitik Harian Fajar.  Akhirnya, "Allahummaghfirlahu, warhamhu, waafihim, wa'fuanhu. Amin Yaa Rabb!" 






Sabtu, 22 September 2012

H. Muammar ZA : Al Qur'an Membawaku Keliling Dunia


H. Muammar Zainal Asyikin (lahir di Pemalang, 1955) adalah seorang hafiz (penghafal Al-Qur'an) dan qari (pelantun Al-Qur'an) asal Indonesia yang dikenal luas secara internasional. Ia pernah menjuarai MTQ tingkat nasional maupun tingkat internasional pada dasawarsa 1980-an. Rekaman pembacaan (tilawah) Qur'an secara duet yang dilakukannya bersama dengan H. Chumaidi hingga sekarang amat populer dan dianggap sebagai terobosan dalam cara presentasi tilawah.
Ia adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara (hanya sembilan yang mencapai dewasa) anak pasangan H. Zainal Asyikin dan Hj. Mu’minatul Afifah, yang juga tokoh agama di desanya. Adiknya, Imron Rosyadi Z.A., juga mengikuti jejaknya menjadi qari nasional setelah menjuara MTQ; sementara adik bungsunya, Istianah, menjadi salah satu anggota DPRD DI Yogyakarta.
Muammar ZA menikah dengan seorang asal Aceh dan dikaruniai seorang putri dan empat putra. Semenjak 2002 ia mendirikan Pesantren Ummul Qura di Cipondoh, Tangerang, salah satunya adalah untuk mewujudkan cita-citanya mencetak qari dan qariah berkualitas internasional.
Dedikasinya yang tinggi sebagai membuatnya pernah menembus tebalnya hutan Kalimantan, lembah di Jawa Barat, hingga ke istana Sultan Brunei dan bahkan diizinkan masuk ke dalam bangunan Ka'bah.


Al-Quran Membawaku Keliling Dunia

Suaranya yang merdu dalam melantunkan Al-Quran, mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari lereng gunung, lembah, ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan ke dalam Kakbah. Lantunan suaranya mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja.

Malam baru saja beranjak, ketika sesosok pria yang masih terlihat muda menaiki panggung dan duduk di kursi yang disediakan. Usai salam dengan suara rendah cenderung serak, pria berperawakan ramping itu mulai membaca taawudz dan basmalah. Dengan mata setengah terpejam, perlahan, ia mulai mengalunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan irama bayati, lagu pembuka qiraah yang bernada rendah.

Perlahan tapi pasti suara itu meningkat, terkadang melengking tinggi, melantun panjang. Di depannya, ratusan orang bagaikan tersihir, terkesima mendengarkan lantunan suaranya yang naik-turun mengirama, bagaikan gelombang ombak yang susul-menyusul menghampiri pantai. Tak jarang, setiap kali alunan suaranya berhenti untuk mengambil napas, puluhan kepala, seperti tersadar dari hipnotis, segera menggeleng takjub.

Ia memang legenda. Meski Musabaqah Tilawatil Quran secara rutin digelar di berbagi tingkatan, belum ada satu pun yang menyamainya. Hampir semua umat Islam Indonesia, terutama di pedesaan, jika ditanya siapakah qari yang paling dikenal di Indonesia, jawabnya pasti Ustadz H. Muammar Z.A.

Suaranya yang merdu serta keindahan iramanya dalam melantunkan Al-Quran begitu termasyhur. Kelebihan ini pula yang mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari desa-desa di lereng gunung, tepi lembah dan ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan mengantarkannya masuk ke dalam Kakbah. Lantunan suaranya yang khas mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja. Ia penah mengaji di istana Raja Hasanah Bolkiah, istana Yang Dipertuan Agong Malaysia, sampai istana raja-raja di Jazirah Arab.


Sejak Belia
Meski masih terlihat cukup muda, Ustadz Muammar tahun ini menginjak usia 51 tahun. Ia dilahirkan di Dusun Pamulihan, Warungpring, Kecamatan Moga, sekitar 40 kilometer selatan ibu kota Kabupaten Pemalang, dari pasangan H. Zainal Asyikin dan Hj. Mukminatul Afifah, ulama dan tokoh masyarakat di desanya. Muammar adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Namun hanya sembilan yang masih hidup. Belakangan, adiknya, Imron Rosyadi Z.A., juga mengikuti jejaknya menjadi qari nasional setelah menjuara
 MTQ. Adiknya yang bungsu, Istianah, kini menjadi salah satu anggota DPRD Tingkat I Yogyakarta.

Muammar mengenal qiraah sejak belia. Ia memang berasal dari keluarga qari. Ayah dan kakak-kakaknya dikenal bersuara merdu. Sang ayah adalah pemangku masjid di dusunnya, yang setiap akhir malam melantunkan tarhiman, shalawat dan puji-pujian untuk membangunkan orang-orang guna mendirikan Shalat Shubuh.

Waktu kecil, ia, bersama teman-temannya, belajar seni baca Al-Quran dari teman lain yang lebih besar, yang kebetulan menguasai beberapa lagu. Di samping itu Muammar mulai keranjingan terhadap qiraah, belajar secara serius pada kakaknya, Masykuri Z.A. Namun karena kakaknya tinggal di sebuah pesantren yang cukup jauh dari desanya, pelajarannya baru akan bertambah jika Masykuri pulang ke rumah ketika liburan.
Namun demikian bakat Muammar mulai kelihatan. Tahun 1962, ia menjuarai
 MTQ tingkat Kabupaten Pemalang untuk tingkat anak-anak, mewakili SD-nya.

Waktu itu saya masih memakai celana pendek saat mengaji, he he he, kenang Muammar.
Sekitar awal tahun 60-an, suara dan lagunya memang sudah mulai bagus, meski hafalan suratnya masih terbatas. Ia sudah mulai diundang untuk mengaji di acara-acara pengajian atau pengantinan di kampungnya. Dan lucunya, ayat yang dibaca itu-itu saja. Ketika kakaknya pulang dari pesantren, barulah hafalan ayat dan lagunya bertambah.

Selepas SD, Muammar sempat nyantri di Kaliwungu, Kendal, sebelum melanjutkan ke
 PGA di Yogyakarta. Selesai PGA, ia sempat juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Di Kota Gudeg, ia melanjutkan kiprahnya di bidang seni baca Al-Quran. Muammar mengikuti MTQtingkat Provinsi DIY yang diadakan oleh Radio Suara Jokja tahun 1967. Ia berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat remaja. Tahun-tahun berikutnya, Muammar ikut lagi dan kembali juara. Tahun itu juga, ia mewakili DIY ikut MTQ tingkat nasional di Senayan tingkat remaja, namun ia belum meraih juara.

Sejak itu, Muammar menjadi langganan tetap kontingen
 DIY di MTQ Nasional, tahun 1972, 1973, dan seterusnya. Tahun 1979, ia bahkan terpilih menjadi anggota kontingen Indonesia di sebuah haflah, semacam MTQ internasional, yang diselenggarakan di Mekkah. Gelar juara nasional pertama kali diraihnya di MTQ Banda Aceh tahun 1981. Kali ini ia mewakili DKIJakarta. Muammar yang saat itu tengah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Ciputat, mendapatkan hadiah sebuah televisi. Pemerintah Provinsi DKI sendiri kemudian memberi tambahan bonus hadiah, ibadah haji.

Namun, tidak seperti kariernya di bidang tarik suara, dalam pendidikan Muammar mengakui kurang berhasil. Kuliahnya di
 PTIQ yang tinggal skripsi tidak selesai. Waktu itu, kata sang qari, ada perubahan peraturan yang agak mendadak. Jika semula syarat ujian skripsi itu hafal lima juz Al-Quran, tiba-tiba diubah menjadi 30 juz.
Wah, saya nggak siap, ujar Muammar jujur. Meskipun demikian, uniknya, setelah menjadi juara nasional dan qari internasional, ia justru diminta mengajar di sana.


Tidak Berpantang
Ditanya mengenai rahasia suaranya, suami Syarifah Nadiya ini dengan serius mengatakan tidak mempunyai resep rahasia apa pun. Dalam hal-hal seperti itu, saya cenderung rasionalis, ungkap Muammar. Saya nggak begitu percaya pada hal-hal begituan, seperti nggak boleh makan ini-itu, harus cukup tidur, atau harus tidur jam segini. Bahkan saya jarang tidur lho, apalagi sebelas hari ini saya selalu pulang pagi.

Ia pun mengakui, meski dulu pernah sekali ikut-ikutan mencoba, tidak berani ikut gurah. Saya nggak berani ikut, katanya. Apalagi yang enggak jelas. Karena, salah-salah malah merusak pita suara. Kalau cuma melegakan, mungkin ya. Tapi kalau dipaksakan begitu lalu saraf tenggorokannya putus, kan malah jadi penyakit, he he he. Sebenarnya, kata Muammar, kalau memahami tata cara wudu yang benar dan menerapkannya, itu juga sudah menjadi gurah. Misalnya ketika istinsyaq, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkan lagi dengan keras.

Disinggung bagaimana kiatnya menjaga suara, qari yang pernah diundang mengaji di istana Yang Dipertuan Agong Malaysia dan Sultan Hasanah Bolkiah, Brunei, ini mengaku hanya memasrahkan diri kepada Allah. Niat saya mau ngaji lillaahi taala, Ya Allah, tolong saya. Namun yang pasti, setiap bangun tidur ia selalu melakukan warming up, pemanasan, dengan rengeng-rengeng, menggumamkan nada-nada tilawah. Demikian juga ketika akan mengaji. Menurutnya ini penting, untuk menghindari kaget.

Berbeda dengan para penyanyi yang banyak mempunyai pantangan, terutama makanan dan minuman, Muammar menyantap hampir semua makanan dan minuman yang disukainya. Bahkan, makanan kesukaannya adalah sambel, lalap, dan ikan asin, yang harus selalu ada di meja makannya.

Saya hanya memastikan, ketika saya mau ngaji, kondisi badan saya fit, ungkapnya, berbagi resep. Baru kemudian, kunci terpentingnya adalah mengaji dengan ikhlas dan perasaan senang.

Bagi Muammar, mengaji dengan ikhlas dan senang hati itu menjadi hiburan dan kenikmatan tersendiri. Maka, tak mengherankan, setiap kali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, ia tampak begitu menikmati. Terkadang matanya setengah terpejam, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Pokoknya saya dengerin sendiri, karena memang pada dasarnya saya suka. Itu, menurutnya, membuatnya mampu mengaji minimal setengah jam, jika di dalam kota. Karena mereka kan sering ketemu saya. Tapi kalau di luar kota, terlebih di luar Jawa, saya bisa satu jam, bahkan lebih.

Dalam satu hari biasanya ia mengaji di tiga sampai empat tempat. Di beberapa tempat, terkadang ia juga berceramah, biasanya jika mubalignya tidak datang. Mengaji itu pula yang mempertemukannya dengan sang istri tercinta, ketika sang pujaan hati yang dinikahinya pada tahun 1984 itu duduk dalam kepanitiaan sebuah pengajian di Kemanggisan. Buah pernikahan dengan wanita berdarah Aceh itu kini sebagian telah beranjak remaja.
Lia Fardizza, putri sulung qari yang pernah berguru kepada Syekh Abdul Kholil Al-Mishri, qari besar Negeri Piramid, kini menginjak semester ketiga di London School, jurusan bahasa Inggris. Sejak TK, Lia memang gandrung dengan bahasa internasional tersebut, terlihat dari hobinya membaca komik-komik berbahasa Inggris. Belakangan ia juga gemar mendendangkan lagu-lagu Barat. Tidak mengherankan, dialek lisannya, menurut Muammar, cenderung ke Amerika.

Putra-putranya, Ahmad Syauqi Al-Banna, kini duduk di kelas 3
 SMU, Husnul Adib Al-Hasyim kelas 2 SMP, Raihan Al-Bazzi, kelas 4 SD, dan si bungsu Ammar Yuayyan Al-Dani, kelas 3 SD. Di antara lima anaknya, tiga di antaranya mewarisi keindahan suara sang ayahanda, Lia, Raihan, dan Ammar. Namun karena keterbatasan waktu serta kesibukan Muammar, diakuinya, potensi putra-putrinya itu belum tergarap.

Menurutnya, qari yang baik itu harus memiliki suara yang bagus, napas panjang, penguasaan lagu, dan dialek yang bagus. Dan, membentuk dialek itu tidak gampang. Orang Jawa, misalnya, akan cukup sulit mengucapkan huruf
 ba dengan benar. Ia sendiri mengaku cukup lama mempelajari dialek Al-Quran dengan memperhatikan dialek qari-qari dari Mesir, Arab, dan daerah Timur Tengah lainnya.

Qari lokal yang bagus, menurut Muammar, biasanya yang berasal dari pesantren Al-Quran yang kebetulan pengasuhnya juga seorang qari mumpuni. Ini karena sang kiai biasanya mempunyai kelengkapan ilmu qiraah dan kepekaan, maka pembelajaran qiraahnya juga dilengkapi dengan ilmu tajwid, makharijul huruf (ilmu pelafalan huruf Al Quran), dzauq (cita rasa bahasa), dan sebagainya.




Diambil dari berbagai sumber antara lain:
http://id.wikipedia.org/wiki/Muammar_Z.A
http://ahmad-iftah-shiddiq.blogspot.com/2006/03/ustad-muammar-za.html
http://yogyakarta.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=11537


Download Gratis 

1. Bimbingan Tilawatil Qur'an oleh H. Muammar ZA.mp3, Volume 1a

2. Bimbingan Tilawatil Qur'an oleh H. Muammar ZA.mp3, Volume 1b

3. Bimbingan Tilawatil Qur'an oleh H. Muammar ZA.mp3, Volume 2a

4. Bimbingan Tilawatil Qur'an oleh H. Muammar ZA.mp3, Volume 2b









Senin, 28 November 2011

Gelitik: Kopiah Haji dan Gelar Haji

Oleh Fuad Rumi | Gelitik Fajar | 11 November 2011 




Bagi kita orang indonesia, kopiah atau songkok putih yang sering kita sebut dengan songkok haji. yang boleh memakai songkok itu "hanya" orang (pria) yang sudah (menunaikan ibadah) haji.

Dulu, orang yang belum pernah naik haji, apalagi kalau dikampung, "takut" atau malu memakai songkok haji. Sebaliknya, orang yang sudah naik haji, pada umumnya tidak pernah melepas songkok haji itu. Bahkan diantaranya ada yang berkepercayaan bahwa kalo pulang menunaikan ibadah haji 40 hari tidak boleh melepas songkok haji tersebut.

Di Mekah, ketika sudah selesai merampungkan ibadah hajinya, diantara jemaah haji kita bahkan baru merasa afdhal pakai songkok haji, berikut sorban dan baju gamisnya setelah melalui sebuah prosesi kecil, dipakaikan songkok haji oleh seorang syekh. Prosesi ini diberi nama, 'mappatoppo'. Tentu saja, itu ada ongkosnya.

Benarkah songkok putih itu songkok haji? sebenarnya bukan. Ketika menunaikan ibadah haji, sebenarnya laki-laki malah dilarang menutup kepala atau pakai songkok. Jadi, sebenarnya tidak ada yang namanya songkok haji.

Songkok putih yang kita sebut songkok haji itu, adalah songkok tradisonal yang dipakai oleh orang arab, yang diantaranya ada yang bukan muslim.

Cerita lain tentang haji, di negeri kita kalau orang sudah menunaikan haji pada namanya ditulis inisial H atau Hi untuk haji laki-laki dan Hj untuk haji perempuan. Ada haji yang merasa tidak nyaman jika ia tidak disapa Pak Haji atau Bu Haji ketika menyebut namanya.

Itulah sedikit fenomena kultural masyarakat kita berkaitan dengan ibadah haji. Haji sekaligus melambangkan status sosial. Bisa di maklumi, sebab betapa berat perjuangan untuk menjadi seorang haji. Dulu, ketika alat transportasi udara belum ada, orang pergi haji berbulan-bulan lewat laut dan harus membawa bekal banyak.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Fuad Rumi
Disalin dari aslinya (Gelitik, Fajar 11 November 2011) 

sumber: http://lobelobenamakassar.blogspot.com/2011/11/kopiah-haji-dan-gelar-haji.html#ixzz1eyrdnqJl







Minggu, 27 November 2011

Gelitik: Duit Korupsi Dianggap Rezeki

oleh Fuad Rumi | 02 Maret 2007

      Sinetron Kiamat Sudah Dekat, yang disenangi presiden kita, SBY, punya lagu yang cukup menarik, menggelitik dan mengena. Salah-satu kalimatnya jadi judul tulisan ini.
      Dunia kalau sudah tua, banyak tanda-tanda mulai terbaca, semua serba terbalik, begitu lagu itu dimulai. Lalu lanjutnya, aduh zaman kok jadi kayak gini, sibuk berebut bukan saling memberi, hasil mencuri dibilang prestasi, duit korupsi dianggap rezeki.
      Bagus sekali, lagu itu seharusnya menggelitik nurani kita. Sekarang, nilai memang tampak terbalik-balik. Yang benar disalahkan orang, yang salah dianggap benar dan banyak penganut dan pengamalnya.
      Mari kita cuplik saja, satu baris kalimat lagu itu, "duit korupsi dianggap rezeki". Memangnya rezeki itu apa sih ? apakah segala sesuatu yang diperoleh, yang dianggap menyenangkan hati adalah rezeki ? apakah setiap rupiah yang didapat, walaupun dari hasil korupsi, adalah rezeki.
       Padahal kalau kita dapat rezeki, kita dianjurkan bersyukur kepada Tuhan, sebab Dialah yang memberi rezeki. Tuhan itu Ar Razzaq, Yang Maha Memberi Rezeki. Karena itu, kalau kita dapat rezeki, kita harus mengucapkan alhamdulillah.
      Lalu saya teringat cerita seorang teman. Konon, ada orang yang menenggak minuman keras. Setelah dia minum, dia bersendawa. Spontan dari mulutnya terucap alhamdulillah. Sambil terkekeh teman tadi bilang, itu alhamdulillahnya salah tempat, menenggak munuman yang diharamkan (dilarang) Tuhan, lalu mengucapkan syukur kepada Tuhan.
      Belum mau berhenti melucu, sang teman bercerita lagi. Katanya ada yang lebih serem. Orang yang baru keluar dari kamar prostitusi, sambil mengipas-ngipas badannya yang berkeringat mengucapkan Alhamdulillah berkali-kali. Yang ini, sama saja, dan bahkan lebih serem dari cerita pertama tadi. Alhamdulillahnya salah tempat.
      Cerita tentang duit korupsi yang dianggap rezeki, sebenarnya tidak beda dengan dua cerita di atas. Duit korupsi yang haram, sama saja dengan minuman haram dan kenikmatan seks haram yang diperoleh dari pelacur. Masa sih menikmati dosa sambilberucap syukur kepada Tuhan ?
      Jadi, duit korupsi sudah jelas jawabnya, bukan rezeki. Rezeki itu dari Tuhan, barangnya halal dan diperoleh secara halal. Makanya, nyanyian Sinetron Kiamat Sudah Dekat, memang tepat sekali melantunkan keheranan, "aduh zaman kok jadi kayak gini, hasil mencuri dibilang prestasi, duit korupsi dianggap rezeki".
      Tapi begitulah zaman sekarang ini, selain nilai terbalik-balik, juga campur aduk. Lalu teman yang bercerita tadi menambah cerita lagi. Katanya, ada orang ikut pilkada kabupaten, duitnya banyak tapi sebagian besar hasil korupsi. Lalu duit korupsi digunakan untuk kegiatan kampanye, termasuk kegiatan zikir, baca doa,  pengajian, menyantuni ini dan itu, sumbang mesjid, panti asuhan dan sebagainya. Sesudah itu dia menang pilkada, lalu bikin syukuran lagi, baca doa lagi, dan korupsi lagi he he he.

      Terhadap kenyataan seperti itu, kita tidak bisa bilang apa-apa lagi. Paling-paling sebagai katarsis, kita ikut menyanyikan lagu Kiamat Sudah Dekat itu, "inikah tanda kiamat sudah dekat, tapi kenapa orang-orang tak banyak bertobat", lalu sambung saja dengan lagu Ebit G Ade, "mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang".



 --------------------------------------------------
http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg11282.html 











Gelitik: Hak Gertak Wakil Rakyat

Oleh Fuad Rumi

Wakil rakyat sekarang, tidak sama dengan wakil rakyat dulu, pada zaman orba. Ada yang bilang, pada zaman orba, wakil rakyat bukan sungguhan, sebab mereka tidak dipilih langsung oleh rakyat. Yang dipilih hanya tanda gambar partai, lalu partai sendiri yang menentukan siapa orang-orangnya yang duduk di lembaga yang terhormat itu (DPR/DPRD). 

Yang dipilih oleh partai harus jadi "anak manis", sebab kalau tidak, suka buka mulut sembarangan, tidak lama kemudian akan kena recall. Itu artinya celaka dua belas, belanga di rumah bisa pecah.

Wakil rakyat zaman reformasi sudah lain. Semuanya berani buka mulut unjuk gigi dan unjuk suara. Kalau dulu ada joke, untuk periksa gigi, seorang wakil rakyat harus pergi ke luar negeri, paling kurang ke Singapura. Masalahnya bukan untuk keren-kerenan, tapi di dalam negeri mereka tidak berani buka mulut.

Padahal untuk periksa gigi, mulut harus dibuka lebar-lebar. Di zaman reformasi, wakil rakyat malah keseringan buka mulut (belum termasuk buka mulut ketika menguap karena mengantuk di sidang paripurna, he... he... he...).

Karena keterhormatannya diatur dan dijamin undang-undang, wakil rakyat punya rupa-rupa hak. Ada hak budget yang menentukan kemana isi kantong negara digunakan, ada hak angket yang bisa mempertanyakan segala soal, ada pula hak interpelasi. Hak-hak tersebut sungguh luar biasa, sebab menentukan pemerintah boleh bikin apa, dan rakyat nasibnya bagaimana.

Kalau pemerintah tidak pandai-pandai ambil hati wakil rakyat, salah-salah banyak anggarannya tidak disetujui, lalu kinerjanya jadi memble. Makanya, pemerintah tidak mau main-main ambil risiko tidak peduli pendapat wakil rakyat kita yang terhormat.

Menjadi wakil rakyat memang tidak gampang. Sebab kalau mendengar wakil rakyat kita bicara rasanya mereka memang serba tahu. Tidak ada urusan yang tidak mereka tahu. Makanya, bagi yang bercita-cita ingin menjadi orang terhormat, menjadi wakil rakyat, tidak boleh sembarangan. Apalagi mau coba-coba pakai ijazah palsu atau asli tapi palsu.

Karena wakil rakyat serba tahu, maka pemerintah tidak boleh sembarangan bikin kebijakan atau ambil keputusan. Salah sedikit wakil rakyat akan mempertanyakan. Seperti dikatakan tadi, mereka punya yang namanya hak interpelasi atau hak angket. Selama masa pemerintahan SBY-JK, hitung-hitung paling tidak sudah tiga kali hak interpelasi mau digunakan oleh wakil rakyat.

Sewaktu harga BBM mau dinaikkan untuk kedua kalinya pada tahun 2005, wakil rakyat kita ribut mau mengajukan hak interpelasi. Kenaikan harga BBM mau "diusut" habis-habisan. Tapi sayang hak istimewa itu tidak jadi digunakan, RAPBN 2005 disetujui DPR termasuk harga BBM. Juga termasuk gaji wakil rakyat dinaikkan.

Tak lama kemudian menyusul lagi, ada keinginan beberapa anggota DPR dan fraksi mau mengunakan interpelasi tentang teleconference presiden dari luar negeri. Konon biayanya terlalu mahal. Namun, sayang lanjutannya juga jadi "memble" di tengah jalan. Yang terakhir dan cukup panas, yaitu rencana hak interpelasi wakil rakyat soal impor beras. Beritanya heboh berhari-hari di media massa.

Tapi, yang terjadi kemudian, setelah ada lobi sana-sini, menteri dari parpol dipanggil dan dikumpul oleh presiden, tidak lama kemudian, di rapat paripurna, DPR memutuskan hak interpelasi impor beras tidak jadi digunakan. Jadi sekarang ada fenomena baru di Senayan.

Sudah tiga kali ada hentakan wakil rakyat mau bikin interpelasi, heboh sebentar, tapi kemudian tidak jadi dilakukan. Rakyat awam lalu memahaminya hanya sebagai gertak sambal saja. Barangkali memang wakil rakyat kita perlu tambah sebuah hak baru, namanya hak gertak. 

----------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber:
Gelitik :: Fuad Rumi
http://groups.yahoo.com/group/pelajar_islam_indonesia/message/6957?var=1

Gelitik: Cicak dan Nyamuk Antikorupsi

Oleh Fuad Rumi



Seekor cicak diam terpaku di dinding sebuah rumah. Beberapa nyamuk beterbangan tidak menggugah seleranya. Seekor nyamuk betina memberanikan diri semakin dekat sembari bertanya. “Hai cicak ganteng kenapa loyo sekali tampaknyan lapar ya?”
“Ya, saya lapar nih. Sudah lama belum makan,” jawab sang cicak.

“Hah? Bukankan di sekitarmu banyak nyamuk yang biasa kau mangsa? Apakah kamu sakit gigi atau kamu patah hati,” tanya nyamuk.
 

“Tidak, aku tidak sakit. Aku ragu-ragu memakan kamu.”
“Kenapa ragu cicak? Apa penyebabnyan aku tidak mengerti?”
“Baiklah nyamuk, aku buka rahasia. Aku ragu dalam tubuhmu mengalir darah koruptor. Aku tidak mau darahku bercampur unsur yang tidak halal,” kata cicak.

Singkat cerita nyamuk bertanya apa sebabnya. “Aku banyak belajar dari manusia soal halal dan haram,” kata cicak.
 

“Oh begitu itu sebabnya kau ragu aku baru saja memangsa darah koruptor. Tapi kamu nanti bisa mati kelaparan kalau begini,” kata nyamuk.
“Ah tidaklah. Aku tidak akan mati hanya karena tidak makan yang haram. Bukankah Tuhan sudah menjamin rezeki seluruh mahluknya,” kata sang cicak.
 

“Tapi bukankah hal haram dan halal itu hanya berlaku bagi manusia.?
“Benar. Tapi cobalah terbang berkeliling dan perhatikan manusia. Hukum halal haram sudah hampir mereka campakkan. Jadi mending prinsip halal dan haram kita yang pakai.”
 

“Benar juga katamu cicak. Aku juga mau ajak kawan kawanku tidak mengisap darah koruptor.”
“Baguslah nyamuk, mari kita menjadi lebih manusiawi. Biarlah manusia yang menjadi hewani hehehehehe,” ujar cicak. (Dikutip dari naskah gelitik fuad rumi di harian Fajar makassar)


---------------------------------------------------------------------------
Sumber:
Kompasiana | Opini, 22 July 2011| 09:24
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/07/22/cicak-dan-nyamuk-antikorupsi/






Gelitik: Polusi Dusta


oleh Fuad Rumi pada 11 Januari 2010 jam 23:56

Satu hal yang membuat kehidupan manusia penuh dengan masalah pelik yaitu dusta. Dusta berseliweran lebih banyak dan lebih kacau dari lalu-lintas kendaraan. Akhirnya, manusia dimakan oleh dustanya sendiri.

Mungkin tidak ada manusia yang luput dari berbuat dusta, kecuali para nabi. Apalagi kalau orang berbuat jahat, pasti juga banyak berdusta, terutama untuk menutupi kejahatannya.

Koruptor pasti berdusta, mulutnya dan tingkah lakunya. Kalau ia terjerat hukum, lebih-lebih lagi, dustanya akan beranak-pinak. Orang yang berselingkuh juga pasti berdusta. Pasangan selingkuhnya dia dustai, pasangan hidupnya dia dustai, anak dan keluarganya dia dustai. Dan sejak dia berselingkuh, dustanya juga beranak-pinak melebihi anak-anaknya sendiri.

Politikus? Wah, untuk yang satu ini malah ada yang berkata kalau tidak bisa berdusta tidak bisa jadi politikus. Makanya, ketika ada yang mengatakan itulah politik, maksudnya jangan heran jika ada dusta di situ.

Walhasil dusta memang ada di mana-mana, mengepung kita. Dusta menjadi polusi kemanusiaan dan kebudayaan yang tiada taranya. Manusia dibuat bingung oleh dusta di mana-mana.

Ada pembeli berkata pada penjual, tolong dikurangi sedikit harganya, uang saya hanya sepuluh ribu. Penjual bilang, maaf tidak bisa, modalnya saja sudah dua belas ribu. Padahal dua-duanya dusta. Itu sedikit contoh interaksi dusta yang sudah umum dan dianggap lumrah. Itu semacam contoh dusta kecil yang sudah dimaklumi kebanyakan orang.

Kalau mau menyaksikan dusta besar dalam urusan besar, ikuti dan cermati saja kasus Centurygate yang sekarang ini sedang diselidiki oleh Pansus DPR. Saksikan bagaimana interogasi dilakukan oleh anggota Pansus dengan mereka yang dipanggil.

Pasti di sana dusta muncrat melebihi muncratnya ludah para pendusta ketika bicara. Ketika mereka berdusta, adakalanya kita ikut geram mendengarnya, terkadang juga malah geli. Kita geram jika ingat banyaknya uang rakyat yang ditelikung oleh dusta mereka. Kita jadi geli ketika orang-orang pintar itu menunjukkan gaya berlagak bodoh atau pilon. Beberapa di antara anggota pansus hampir-hampir tidak bisa menahan diri dan marah.

Kasus Century itu menjadi semakin pelik karena adakalanya dusta yang satu berbenturan dengan dusta yang lain dan pada kesempatan lain dusta yang satu berkolaborasi dengan dusta lainnya. Tak bisa tidak, dusta-dusta di balik kasus Century harus terungkap seterang-terangnya dan sejelas-jelasnya. Tapi mungkinkah? Mungkinkah dusta yang menjadi racun kasus tersebut bisa diungkap semuanya?

Harapan kita tentu harus bisa. Asal saja para anggota pansus mau sungguh-sungguh membongkarnya secara politis dan KPK mau dan berani memprosesnya hingga tuntas. Jangan sampai pansus juga justru menyimpan dusta tersendiri. Kalau itu yang terjadi, maka lengkaplah sudah jagad dusta negeri kita, membuat rakyat negeri ini sesak nafas. Sesak nafas bukan hanya karena penyakit, kemiskinan yang menghimpit dan polusi lingkungan fisik, tapi juga karena polusi dusta yang sudah melebihi ambang batas martabat kemanusiaan.

-----------------------------------------------------------------------------------------------
Terbit di Harian Fajar, 8-1-2010.
http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=78293
http://www.facebook.com/note.php?note_id=284235852924